Memasuki usia 31 tahun kerja sama antara SMAN 2 Mataram dengan Christian College Geelong (CCG), Victoria, Australia, sebanyak 15 siswa didampingi 5 guru CCG mengikuti Short Term Exchange di SMA Negeri 2 Mataram. Kegiatan tersebut berlangsung tanggal 18-24 April 2025. Emerson Gillan, Patrick Cooper, Skye Partridge, Charli Pavlenik, Oliver Probert, Ivy Belle Harris, Benjamin Torriero, Tha Nay Dreamer, Poppy Roberston, Namila Mills, Anika Sharma, Tahlia Candy, Shining Moon, Arlo Benjamin Shimada, dan Phoebe Chisholm adalah siswa-siswa yang bersemangat hadir mengunjungi rekan dan sahabat di Indonesia. Mereka didampingi lima guru, yakni Rick Geall (Wakil Kepala sekolah CCG) Jessica Bijaksono, Dianne Kerr, Nazariah Robottom, dan Steve Sullivan.
Saat sambutan kedatangan rombongan CCG, Kepala SMAN 2 Mataram, Abdul Kadir Alaydrus, menyebut program ini sebagai bagian dari upaya strategis mencetak generasi yang adaptif dan kompetitif di kancah global. Sedangkan Rick Geall, Wakil Kepala Sekolah CCG, menyebut kehadiran mereka ke Indonesia, khususnya SMAN 2 Mataram, adalah untuk memberikan pengalaman berharga bagi siswa untuk belajar secara langsung tentang kehidupan sosial dan budaya di Indonesia.
Selama berada di Indonesia, 15 siswa CCG tinggal bersama keluarga angkat (host families) yakni keluarga siswa SMAN 2 Mataram. Bersama host families mereka mengenal budaya keluarga Indonesia, budaya masyarakat, dan melakukan rekreasi bersama. Aktivitas-akivitas tersebut memberikan kesan mendalam tentang sikap saling menghormati, menghargai, dan saling memberi rasa aman.
Siswa CCG mengikuti pembelajaran di kelas untuk mengenal dan merasakan suasana proses belajar mengajar sambil mempelajari dan mempraktikkan kemampuan sederhana mereka dalam berbahasa Indonesia. Di kelas, mereka juga belajar membatik Sasambo (batik khas yang merupakan gabungan motif batik dari tiga suku besar di Nusa Tenggara Barat: suku Sasak di Pulau Lombok, suku Samawa di bagian barat pulau Sumbawa, dan suku Mbojo di bagian timur pulau Sumbawa) dan mengenal sejarah Lombok. Mereka juga mencoba membuat masakan tradisional Sasak saat berkunjung ke Desa Karang Bayan. Pengenalan budaya diperkuat juga dengan kunjungan ke desa tradisional Sasak yakni Desa Ende. Di sini mereka diperkenalkan tentang rumah tradisional, tradisi pernikahan, serta pertandingan tradisional Presean. Beberapa siswa CCG bahkan mencoba pertandingan tradisional ini.
Selain pengenalan budaya, rombongan CCG juga diperkenalkan pada beberapa tempat wisata, seperti Museum Nusa Tenggara Barat, Taman Langit, Pantai Mawun, serta mengunjungi dan merasakan langsung suasana dalam area Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup Jumat malam, 23 April 2026. Kegiatan penutupan yang dihadiri seluruh anggota rombongan CCG, siswa twin school SMAN 2 Mataram, serta host families berlangsung secara sederhana namun bermakna. Abdul Kadir Alaydrus sebagai Kepala SMAN 2 Mataram menyatakan bahwa program pertukaran ini telah berjalan dengan sukses dan lancar atas dukungan dan dedikasi semua siswa dan guru pendamping dari SMAN 2 Mataram dan CCG, serta keterbukaan para host families. Ia berharap ikatan persahabatan dan kesalingpahaman yang terbina akan terus tumbuh kuat di masa depan. Mewakili CCG, Mrs. Jessica Bijaksono menyampaikan rasa bangga dan haru atas aktivitas, pengalaman, dan kenangan indah yang tercipta. Ia mengatakan bahwa rombongan CCG sangat menikmati kesempatan untuk saling mengenal dan mempelajari budaya masing-masing serta sangat bersyukur atas jalinan hubungan yang semakin diperkuat melalui program kunjungan tahun ini. Ia juga menekankan pentingnya membekali siswa, tidak hanya dengan pengetahuan akademik tetapi juga dengan dengan keterampilan dan pola pikir yang diperlukan untuk berkembang. Dengan menumbuhkan pemahaman lintas budaya dan menghargai keberagaman, CCG dan SMAN 2 Mataram telah memberdayakan siswa untuk menjadi individu yang penuh kasih, empatik, dan memiliki kompetensi budaya, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan di dunia yang terus berubah.
Acara penutupan dimeriahkan dengan lagu barat dan lagu tradisional, aneka kreasi tari tradisional Indonesia oleh ekstrakurikuler tari SMAN 2 Mataram, serta lagu dan gerak dari rombongan CCG.
Siswa-siswi SMAN 2 Mataram kembali menorehkan prestasi gemilang di kegiatan olah raga. Kali ini mereka meraih prestasi sebagai juara umum Kejuaraan Daerah Atletik Pelajar Piala Gubernur NTB tahun 2024.
Dalam kejuaraan yang berlangsung tanggal 30 November s.d. 1 Desember 2024 di Lapangan Atletik GOR Turida tersebut. SMAN 2 Mataram menurunkan 25 atlet di cabang-cabang lari 100m, 400m, 800m, 1500m, lari gawang 110m dan 440 m, lompat jauh, lompat jangkit, dan tolak peluru. Lomba yang tidak diikuti adalah lompat tinggi, lari 5000m dan 1000m karena tidak ada atlet SMAN 2 Mataram di tiga cabang lomba tersebut.
Pembina atlet-atlet atletik SMAN 2 Mataram, Hafez Nuren, S.Pd. menjelaskan bahwa hasil ini merupakan hasil dari latihan keras dan motivasi tinggi yang dimiliki altel-atlet Smanda. “Mereka saya minta untuk fokus dalam latihan, bersungguh-sungguh, dan yang paling penting tidak melupakan ibadah hanya karena alasan latihan atau perlombaan. Mereka juga saya minta untuk berlomba dengan tulus tanpa mengharapkan hadiah atau bonus dari sekolah kartena sekolah sudah cukup memfasilitasi mereka dengan memberikan uang mendaftaran dan konsumsi,” tutur guru olah raga ini.
Hafez Nuren menyampaikan beberapa kesan mendalam usia perlombaan kali ini. “Saya sangat senang karena altlet 110 lari gawang putera semua podium atau meraih juara 1, 2, dan 3. Selain itu saya juga bangga dan terharu karena atlet 1500 m puteri, Maulina Tri Astuti, puteri dari penjaga GOR meraih medali emas,” tuturnya.
Di bagian akhir, Hafedz Nuren menyampaikan harapan siswa agar tahun pelajaran yang akan datang di SMAN 2 Mataram ada Esktrakurikuler Atleltik. “Siswa Smanda yang menjadi atlet ini sangat berharap agar di sekolah ada pembinaan khusus melalui ekstrakurikuler atletik. Saya sangat setuju karena jika ada ekstrakurikuler ini siswa kita yang senang dengan olah raga atletik akan memiliki wadah untuk mengembangkan kemampuannya, terutama siswa yang bukan dari PPLP. Selain itu, ekstrakurikuler atletik tersebut dapat menjadi tempat alumni PPLP dari Smanda untuk berbagi pengalaman dengan adik-adik angkatan, misalnya dengan memberikan latihan atau pendampingan.”
Sementara itu, Kepala SMAN 2 Mataram, Abdul Kadir Alaydrus, S.P., M.Pd. menyampaikan kebanggan atas prestasi ini. Beliau juga berharap agar atlet-atlet Smanda, baik dari siswa PPLP maupun siswa regular dapat meningkatkan prestasi di tingkat nasional, khususnya pada ajang Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS) dan Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang.
Berikut adalah raihan atlet-atlet SMAN 2 Mataram dalam Kejuaraan Daerah Atletik Pelajar Piala Gubernur NTB tahun 2024.
Pembelajaran Berdiferensiasi Menggunakan Model Pembelajaran Project Based Learning Sebagai Upaya Peningkatan Hasil Belajar Sejarah Kelas X 7 Fase E SMAN 2 Mataram
Abstrak: Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar peserta didik kelas X 7 pada materi sejarah seputaran Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia. Penelitian ini dilakukan pada kelas X 7 di SMA Negeri 2 Mataram semester 2 Tahun ajaran 2023/2024. Subjek penelitian sebanyak 36 peserta didik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Penelitian Tindakan Kelas yang terdiri dari dua tindakan siklus yaitu siklus I dan siklus II. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif berupa tes tulis dan metode penelitian kualitatif menggunakan lembar pengamatan dan lembar refleksi diri. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran berdiferensiasi menggunakan metode (Project Based Learning) PjBL dapat meningkatkan hasil belajar pada materi sejarah seputaran Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia dengan pencapaian ketuntasan belajar dari kondisi awal pra siklus diperoleh 36,11% menjadi 88,89% pada siklus I dan menjadi 100% pada siklus II.
Kata Kunci: Hasil Belajar Sejarah, Pembelajaran Berdiferensiasi, Model Project Based Learning (PjBL)
PENDAHULUAN
Belajar merupakan aktivitas atau proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap dan mengokohkan kepribadian (Suyono, Hariyanto: 2014). Berbicara masalah pendidikan, pada dasarnya merupakan sarana strategis dalam meningkatkan potensi pengetahuan agar peserta didik dapat mengambangkan kreatifitas, kemampuan individu dan tataran kehidupan masyarakat. Pengembangan sumber daya manusia menjadi tugas dan tanggung jawab pendidik dalam menuntun potensi-potensi tiap peserta didik dengan memfasilitasi kebutuhannya sehingga mampu menyerap dan memahami apa yang disampaikan dan dipelajari untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Identifikasi yang dilakukan menunjukan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran masih belum banyak perubahan. Pembelajaran dilakukan dengan menerapkan sistem pembelajaran yang melihat semua peserta didik itu sama, baik dari gaya belajar dan capaian hasil belajar. Hal ini dikarenakan guru tidak melihat keberagaman dan kemampuan peserta didik. Guru seolah-olah mengajari satu orang peserta didik dalam satu kelas, sedangkan dalam satu kelas tersebut terdapat lebih dari 30 peserta didik yang mempunyai keunikan, kemampuan dan keberagaman pengalaman belajar. Dari keberagaman tersebut guru hanya menggunakan satu treatmen pembelajaran yang bisa dikatakan kurang mengakomodir seluruh kebutuhan siswa, sehingga tidak jarang pembelajaran yang disampaikan sulit untuk diterima oleh peserta didik dan menjadikan motivasi belajar kurang. Seorang pendidik haruslah sadar bahwa setiap anak adalah unik. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda antara satu anak dengan yang lainnya. Hal ini dimaksudkan bahwa penyeragaman hal-hal yang tidak bisa di seragamkan telah menjadi sebuah budaya pada proses pembelajaran yang tidak membedakan minat, bakat, kesiapan belajar, profil belajar serta keadaan hidup anak dan masyarakat yang satu dengan yang lain yang saat ini harus menjadi perhatian dan upaya perubahan untuk mengakomodir perbedaan tiap peserta didik yang satu dengan yang lain.
Berbicara masalah pendidikan, guru harus mengupayakan pembelajaran yang bermakna. Setiap guru, termaksud guru sejarah harus memiliki cara yang dapat menarik perhatian peserta didik agar pembelajaran berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu cara dalam mengatasi masalah peserta didik yang kurang dalam minat belajar adalah memanfaatkan pembelajaran yang menekankan kepada pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Metode pembelajaran yang berpusat pada peserta didik salah satunya adalah pembelajaran berbasis projek. Afriani (2015) menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis projek merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi setiap peserta didik. Pengalaman belajar peserta didik maupun konsep dibangun berdasarkan produk atau karya yang dihasilkan dalam proses belajar berbasis projek.
Dengan adanya kasus tersebut, Pendidikan seharusnya bisa mengakomodasi begala bentuk perbedaan yang ada pada peserta didik. Memfasilitasi kebutuhan- kebutuhan yang dibutuhkan oleh tiap peserta didik, keberagaman tersebut harus selalu diperhatikan mengingat tiap peserta didik hidup dan tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda. Sesuai dengan hal tersebut, sebisa mungkin guru dapat mendesain pembelajaran yang memperhatikan keberagaman peserta didik agar pembelajaran yang dihasilkan mampu mengakomodir seluruh kebutuhan belajar peserta didik.
Melalui pembelajaran berdifensiasi dengan menggunakan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL), peserta didik akan dipetakan berdasarkan kemampuan yang dimiliki dan guru memberikan masalah untuk mendapatkan konten, mengembangkan gagasan, serta menoptimalkan karya pembelajaran dan ukuran penialain sehingga seluruh anak di dalam satu ruangan kelas yang memiliki kecakapan beragam bisa belajar secara optimal. Dari latar belakang tersebut, penelitian ini mempunyai tujuan untuk untuk menyusun dan mendeskripsikan kajian mengenai:
Bagaimana penerapan pembelajaran berdiferensiasi menggunakan metode Project Based Learning (PjBL) dalam pelajaran sejarah kelas X 7 di SMA Negeri 2 Mataram dilaksanakan?
Bagaimana peningkatan hasil belajar peserta didik terhadap strategi pembelajaran berdiferensiasi menggunakan metode Project Based Learning (PjBL) dalam pelajaran sejarah kelas X 7 di SMA Negeri 2 Mataram?
KAJIAN TEORI
Pembelajaran Berdifensiasi
Pembelajaran berdifensiasi adalah proses asimilasi keragaman untuk memperoleh informasi, menciptakan ide, dan mengaktualkan apa yang mereka pelajari (Tomlinson: 2001). Pembelajaran berdifensiasi terjadi dengan menciptakan lingkungan belajar yang majemuk, dan memberikan keleluasaan kepada peserta didik untuk meraih kepuasan dalam memproses ide untuk membangkitkan sebuah hasil tiap anak sehingga mereka belajar dengan sangan efektif. Sejalan dengan yang disampaikan oleh Tompinson (dalam Marlina: 2) bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah pembelajaran yang mengakomodir, menuntun dan menghargai kemajemukan peserta didik dalam belajar sesuai kesiapan belajar, minat dan profil belajar peserta didik. Ketiga aspek tersebut dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut :
a. Kesiapa belajar peserta didik
Kesiapan belajar peserta didik adalah kesanggupan untuk mempelajari materi baru. Kesiapan belajar tidak diartikan sebagai kemampuan peserta didik, kesiapan belajar yang dimaksud digambarkan sebagai rentang belajar mengajar dengan tingkatan yang berbeda pada masing-masing peserta didik. Melalui rentang tersebut akan diketahui peserta didik yang telah siap akan bergerak maju, sedangkan anak dengan kesiapan belajar kurang akan bergerak mundur dalam mencapai tujuan pembelajaran. Sementara Marlina (2020:22) menggambarkan kesiapan siswa sebagai bentuk kedekatan dengan tujuan belajar yang ditentukan.
b. Minat peserta didik
Minat adalah salah satu motivator terpenting dalam mencapai sebuah tujuan. Minat juga mengaktifkan seorang anak untuk terlibat dalam sebuah pembelajaran. Tomlinson (2001) menjelaskan bahwa minat peserta didik dapat meningkatkan motivasi belajar, membantu peserta didik mengkonvensi antara sekolah dengan kecenderungan mereka untuk belajar, menunjukan keterhubungan antara semua pembelajaran. Sementara Marlina (2020) menggambarkan minat sebagai kesukaan pribadi peserta didik dan kemauan yang bisa memotivasi belajar.
c. Profil belajar peserta didik
Marlin (2020) menggambarkan profil belajar peserta didik sebagai sebuah desain belajar yang paling disenangi oleh peserta didik, yaitu rancangan belajar yang diguguh oleh cara berpikir, kecerdasan istimewa, latar belakang budaya, atau jenis kelamin. Sementara Tomlinson (2021) menggambarkan profil belajar siswa terkait dengan kecenderungan belajar yang biasa dilakukan peserta didik. Gaya belajar yang dimaksud adalah kecenderungan belajar yang terkait dengan :
Visual : gaya belajar dengan mengandalkan kekuatan visual (melihat) untuk mempertajam pemahaman terhadap suatu objek belajar
Audio : gaya belajar yang mengandalkan kemampuan mendengarkan untuk memperdalam pemahaman terhadap objek belajar.
Kinestetik : belajar dengan mengekspresikan dirinya melalui gerakan. Peserta didik dengan kecenderungan belajar secara kinestetik biasanya senang melakukan aktifitas belajar di luar ruangan. Kecerdasan fisik pada pembelajaran kinestetik lebih unggul dibandingkan dengan peserta didik lain.
Pembelajaran berdiferensiasi menggunakan beberapa pendekatan yaitu konten, proses, produk:
Konten (isi) berhubungan denga apa yang akan siswa ketahui, pahami dan apa yang akan di pelajari. Konten berkaitan juga dengan konsep/ keterampilan dasar yang akan mereka pelajari
Proses merupakan bagian/ cara peserta didik mendapatkan informasi atau pengetahuan yanga akan mereka pelajari. Metode berkaitan dengan Langkah-langkah yang akan diperoleh siswa dalam memandu memperoleh informasi
Produk merupakan bukti, karya atau hasil secara konkrit apa yang sudah mereka pelajari dan pahami. Produk bersifat wujud atau nyata dalam bentuk karya siswa yang di desain sedemikian rupa sesuai dengan pemahaman dan kreasi mereka terhadap materi ajar.
Tomlison (2001:1) menjelaskan bahwa “difeerentiated instruction includes teachers’ proactive plan to through concern with providing ways for students to access knowledge by giving various approaches on the content, process, and product”. Diartikan bahwa dalam pembelajaran diferensiasi termasuk sebuah rencana proaktif guru dalam menyiapkan cara untuk mengakses kemampuan peserta didik dengan memberikan berbagai pendekatan pada konten, proses dan produk. Dari pemaparan tersebut bahwa pembelajaran berdifensiasi hendaknya menumbuhkan rasa peka terhadap anak dengan keberagaman masing-masing dengan menggunakan keberagaman pendekatan yang memuat konten, proses dan produk dimana pelaksanaan kegiatannya berpusat pada peserta didik.
2. Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2005:20) hakikat hasil belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kemudia, Sudjana (2005:38) mengatakan bahwa hasil belajar yang dicapai peserta didik dipengaruhi dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri peserta didik dan datang dari luar diri peserta didik atau faktor lingkungan. Faktor yang datang dari dalam peserta didik terutama kemampuan yang dimilikinya dan memiliki pengaruh yang besar terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki peserta didik, juga ada faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, factor fisik dan psikis.
Dalam sistem Pendidikan nasional rumusan tujuan Pendidikan, baik tujuan kurikuler, maupun tujuan instruksional, menggunakan hasil belajar dari Anderesen (Darmawan dan Sujoko, 2013:35) yang secara garis besar membaginya dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam Kawasan kognisi. Proses belajar yang melibatkan Kawasan kognisime meliputi kegiatan sejak
dari penerimaan stimulus, penyimpanan dan pengolahan dalam otak menjadi informasi hingga pemanggilan kembali informasi ketika diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Secara hirarki tingkat hasil belajar kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana haitu hafalan sampai yang paling tinggi dan kompleks yaitu evaluasi. Enam tingkatan itu adalah Pengetahuan (C1), Pemahaman (C2), Penerapan (C3), Analisi (C4), Evaluasi (C5), dan Menciptakan (C6).
Pengetahuan (knowledge) yaitu kemampuan seseorang untuk mengingat kembali tentang nama, istilah, ide, gejala, rumus-rumus dan lain sebagainya tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya
Pemahaman (comprehension) yakni kemampuan seseorang untuk memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat melalui penjelasan dari kata-katanya sendiri
Penerapan (application) yakni kesanggupan seseorang untuk menggunakan ide-ide umum, tata cara atau metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori, dan lain sebagainya dalam situasi yang baru dan kongkret
Analisis (analysis) yakni kemampuan seseorang untuk menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian tersebut
Evaluasi (evaluation) yang merupakan jenjang berfikir paling tinggi talam ranah kognitif menurut Taksonomi Bloom. Penelitian disini adalah kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide yang tepat sesuai kriteria yang ada
Menciptakan yakni memadukan unsur-unsur atau bagian-bagian kedalam suatu yang baru dan utuh atau untuk membuat suatu produk yang orisinil
b. Ranah afektif
Kreatwohl (Purwanto, 2008:51) membagi belajar afektif menjadi tiga tingkatan, yakni penerimaan (merespon rangsangan), organisasi (menghubungkan nilai- nilai yang dipelajari), dan internalisasi (menjadikan nilai-nilai sebagai pedoman hidup). Hasil belajar disusun secara hirarkis mulai dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi. Jadi ranah afektif adalah yang berhubungan dengan nilai-nilai yang kemudian dihubungkan dengan sikap dan perilaku.
c. Ranah psikomotorik
Beberapa ahli mengklasifikasikan dan menyusun hirarki dari hasil belajar psikomotorik. Hasil belajar disusun berdasarkan urutan mulai dari yang paling rendah dan sederhana sampai yang paling tinggi hanya dapat dicapai apabila siswa telah menguasai hasil belajar yang lebih rendah. Simpson (Purwanto, 2008:52) mengklasifikasikan hasil belajar psikomotorik menjadi enam yaitu persepsi (membedakan gejala), kesiapan (menempatkan diri untuk memulai suatu gerakan), gerakan terbimbing (meniru model yang dicontohkan), gerakan terbiasa (melakukan gerakan tanpa model hingga mencapai kebiasaan), gerakan kompleks (melakukan serangkaian gerakan secara berurutan), dan kreativitas (menciptakan gerakan dan kombinasi gerakan baru yang orisinil atau asli).
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
Manusia memiliki potensi perilaku kejiwaan yang dapat di didik dan perilaku yang dapat diubah meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku individu yang dahulunya belum bisa menjadi bisa, dan dari yang belum tahu menjadi tahu. Hasil belajar pada penelitian ini menitikberatkan pada hasil belajar kognitif. Hasil belajar kognitif dapat diukur melalui tes dan dapat dilihat dari nilai yang diperoleh. Dalam penelitian ini hasil belajar dikhususkan pada tingkat pengetahuan (C1) sampai tingkat analisis (C4).
3. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Dalyono (2009:55) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi Kesehatan, intelegensi, dan bakat, minat dan motivasi juga cara belajar. Sedangkan faktor eksternal meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar.
A. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri, meliputi:
1. Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Bila seseorang tidak sehat dapat mengakibatkan ketidak bergairahan untuk belajar. Demikian pula jika Kesehatan rohani kurang baik dapat dapat mengurangi semangat belajar. Dengan semangat belajar yang rendah tentu akan menyebabkan hasil belajar yang rendah pula.
2. Intelegensi dan bakat
Kedua aspek kejiwaan ini besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Seseorang yang memiliki intelegensi tinggi (IQ-nya) tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya cenderung baik. Sebaliknya orang yang intelegensinya rendah cenderung mengalami kesulitan dalam belajar, lambat berpikir sehingga hasil belajar pun rendah. Orang yang memiliki bakat akan lebih mudah dan cepat pandai bila dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki bakat. Bila seseorang memiliki intelegensi tinggi dan bakat dalam bidang yang dipelajari, maka proses belajaranya akan lancar dan sukses.
3. Minat dan motivasi
Minat dan motifasi adalah dua aspek psikis yang besar pengaruhnya terhadap hasil belajar yang akan dicapai. Minat belajar yang besar cenderung memperoleh hasil belajar yang tinggi, sebaliknya minat belajar yang kurang akan memperoleh hasil belajar yang rendah. Seseorang yang belajar dengan motivasi yang kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh, penuh gairah dan semangat. Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi hasil belajar. Minat dan motivasi belajar ini dapat juga dipengaruhi oleh cara guru dalam menyampaikan materi pembelajaran. Guru yang menyampaikan materi dengan metode dan cara yang inovatif akan mempengaruhi minat dan motivasi peserta didik.
4. Cara belajar
Cara belajar seseorang juga mempengaruhi capaian hasil belajar. Belajar tanpa memperhatikan Teknik atau faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu Kesehatan akan memperoleh hasil belajar yang kurang memuaskan.
Cara belajar tiap anak berbeda-beda. Ada anak yang dapat dengan cepat menyerap pembelajran dengan metode visual atau melihat objek sebagai media pembelajarannya. Ada anak dengan gaya belajar audio atau mendengarkan penjelasan yang di berikan oleh gurunya dan sumber belajar lain dan ada anak dengan gaya belajar kinestetik atau atau dengan gerak motoriknya misal dengan cara berjalan-jalan dan mengalami langsung aktifitas belajarnya.
B. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri, meliputi:
Keluarga
Keluarga sangatlah besar pengaruhnya terhadap keberhasilan peserta didik dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurang perhatiandan bimbingan orang tua, kerukunan antar anggota keluarga, hubungan antar anak dengan anggota keluarga yang lain, situasi dan kondisi rumah juga mempengaruhi hasil belajar.
2. Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar mempengaruhi keberhasilan belajar. Kualitas guru, metode mengajar, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan peserta didik, keadaan fasilitas di sekolah, keadaan ruangan belajar, jumlah peserta didik perkelas, pelaksanaan tata tertip sekolah, dan lain sebagainya. Semua hal ini mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Metode pengajaran guru yang inovatif dapat juga mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Metode mengajar dengan model kooperatif learning misalnya, mengajar peserta didik belajar berkelompok sehingga dapat merangsang untuk terjadinya interaksi dengan teman lainnya. Teknik belajar dengan teman sebaya dapat mengaktifkan keterampilan proses yang dimuli oleh peserta didik.
3. Masyarakat
Kondisi masyarakat disekitar lingkungan tempat tinggal peserta didik juga dapat mempengaruhi hasil belajar. Bila di sekitarnya merupakan merupakan masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang berpendidikan, akan mendorong peserta didik lebih giat lagi dalam belajar. Sebaliknya jika lingkungan sekitar tempat tinggal peserta didik banyak anak-anak yang nakal, pengangguran, tidak bersekolah maka akan mengurangi semangat belajar sehingga motivasi dan hasil belajar berkurang.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang menyebabkan tingkat hasil belajar peserta didik. Selain faktor dari dalam lingkungan sekolah, terdapat juga faktor dari luar lingkungan sekolah yang keseluruhannya dapat membawa dampak baik maupun buruk untuk peserta didik. Metode pengajar yang di terapkan oleh guru adalah salah satu faktor penting untuk meningkatkan kemampuan dan capaian hasil belajar peserta didik. Jika seorang guru berhasil dalam memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna pada peserta didik, maka mereka akan termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar mereka.
1. Manfaat Hasil Belajar
Hasil belajar bermanfaat untuk mengetahiu capaian dari proses pembelajaran yang telah dilalui oleh peserta didik. Menurut Sudjana dan Ibrahim (2009:3)
mengatakan bahwa hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku seseorang, yang mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti suatu proses belajar mengajar tertentu. Pendidikan dan pengajaran dikatakan berhasil apabila perubahan-perubahan yang tampak pada peserta didik merupakan akibat dari proses belajar mengajar yang dialaminya dan merupakan proses yang ditempuh melalui program dan kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru dalam proses pengajarannya.
Hasil belajar harus menunjukan perubahan keadaan menjadi lebih baik, sehingga bermanfaat untuk: a) menambah pengetahuan, b) lebih memahami sesuatu yang belum diketahui sebelumnya, c) lebih mengembangkan keterampilannya, d) memiliki pandangan baru atas sesuatu hal, e) lebih menghargai sesuatu dari pada sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yang di capai oleh peserta didik tudak hanya berkaitan dengan materi yang telah di kuasai, tetapi juga perubahan dari segi sikap dan ketemapilan.
2. Metode Pembelajaran Projek Based Learning (PjBL)
Pembelajaran menggunakan metode PjBL merupakan teknik yang memberikan inovasi dalam pembelajaran. Peran guru dalam metode ini sebagai fasilitator yang memberikan fasilitas terhadap peserta didik ketika mengajukan pertanyaan mengenai teori serta memberikan motivasi terhadap peserta didik supaya aktif dalam pengajaran (Trianto, 2014:42).
Menurut Yahya Muhammad Mukhlis, model pembelajaran yang digunakan ini memberikan kesempatan pada pendidik untuk mengendalikan penuh proses pengajaran yang berlangsung. Sistem pengajaran yang diberikan memasukkan kerja proyek dalam prosesnya (dalam Trianto, 2014:42).
Model pengajaran project based learning seringkali disebut dengan metode pengajaran yang menggunakan persoalan masalah dalam sistemnya dengan tujuan mempermudah peserta didik dalam proses pemahaman serta penyerapan teori yang diberikan. Model tersebut menggunakan pendekatan kontekstual serta menumbuhkan keahlian peserta didik dalam berpikir kritis. Sehingga mampu mempertimbangkan keputusan paling baik yang diambil sebagai solusi penyelesaian dalam permasalahan yang diterima. Mempertimbangkan baik buruknya suatu keputusan yang digunakan sebagai solving juga termasuk dalam teori yang diberikan (Wena, 2010:145).
Kerja proyek seringkali diartikan sebagai kerja yang tersusun oleh beberapa tugas dan didasarkan dengan pertanyaan serta permasalahan yang menuntut peserta didik cenderung berpikir kritis dalam pencarian solusinya. Langkah penyelesaian masalah yang dilakukan oleh peserta didik dapat dijadikan dasar dalam melakukan penilaian (Wena, 2010).
Langkah-langkah Model Pembelajaran Project Based Learning
Penentuan pertanyaan mendasar ( Start With the essential question) Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Pertanyaan disusun dengan mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pertanyaan bersifat terbuka (divergen), provokatif, menantang, membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (high order thinking), dan terkait dengan kehidupan peserta didik. Guru berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
2. Mendesain perencanaan projek ( Design a plan for the project)
Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan kegiatan yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan penting, dengan cara mengintegrasikan berbagai materi yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek. waktu akhir penyelesaian proyek, membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang cara pemilihan waktu.
3. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek ( Monitor the student and the progress of the project)
Guru bertanggung jawab untuk memantau kegiatan peserta didik selama menyelesaikan proyek. Pemantauan dilakukan dengan cara memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi fasilitator bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses pemantauan, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan kegiatan yang penting.
4. Menguji hasil (Assess the outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar kompetensi, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
5. Mengevaluasi pengalaman ( Evaluate the experience)
Pada akhir proses pembelajaran, guru dan peserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamannya selama menyelesaikan proyek. Guru dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.
(Prof. Dr. Hj. Sri Redjeki, M.Pd)
Penerapan pada pembelajaran sejarah di kelas X 7 mengacu pada proses pembelajaran yang menggunakan metode diskusi secara kelompok. Metode ini merupakan penyuluhan yang berbentuk penugasan proyek berupa keliping, dengan tujuan menggunakan media pembelajaran Projek Based Learning peserta didik akan lebih kreatif, dan inovatif yang berbasis teknologi dalam menunjang kegiatan pembelajaran di kelas pada materi sejara Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia dimana peserta didik diharapkan dapat mengidentifikai dan
mengelompokan peninggalan Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia yang masih ada hingga saat ini sehingga peserta didik bisa lebih meresapi makna dan nilai- nilai yang terkandung dalam peristiwa sejarah tersebut. Juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan peka terhadap peristiwa sejarah sehingga berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar. Peningkatan motivasi belajar peserta didik melalui mengembangkan model pembelajaran Project Based Learning dipaparkan pada table di bawah ini:
Tabel 1.1 Indikator PjBL terhadap Upaya Peningkatan Hasil Belajar Peserta didik
No
Langkah- langkahPjBL
Aspek Tiap Tahap yangDiamati
Peningkatan HasilBelajar
1
Penentuan pertanyaan mendasar
Guru menayangkan video yang berteks dan memberikan pertanyaan mendasar berkaitan mengenai Kerajaan- Kerajaan Hindu dan Budah serta warisan budaya kerajaan- kerajasan Hindu dan Budha dalam kehidupan masa kini Peserta didik menganalisis dari video yang di tayangkan mengenai materi- materi terkait dengan projek yang akan dikerjakan.
Menunjukan semangat peserta didik dalam kegiatan mencari informasi dari internet maupun bukuMengidentifikasi sumber-sumber yang berkaitan dengan materi yang berkaitan dengan projekMemilih informasi yang relefan
2
Mendesain perencanaan projek
Guru memberiakan penjelasan secara singkat mengenai materi serta perencanaan projek yang akan dilakukan dengan metode diskusi kelompok Peserta didik berdiskusi untuk mendesain perencanaan projek pemecahan masalah seperti pembagian tugas, persiapan alat dan bahan, media serta sumber yang dibutuhkan.
Mendesain perencanaan projek dengan metode diskusiPembagian kelompok secara heterogenMenyiapkan alat dan bahan serta media serta sumber
3
Menyusun Jadwal
Guru dan peserta didik menyusun jadwal kegiatan dalam menyelesaikan proyek serta menentukan waktu akhir penyelesaian projek
Menyusun jadwal sesuai kesepakatan, antara lain: a. Waktu kegiatan menyelesaikan pojek b. Waktu akhir penyelesaian projek
4
Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek
Guru berperan menjadi fasilitator memantau dan memfasilitasi peserta didik pada setiap proses kegiatan selama menyelesaikan proyek Peserta didik mulai melakukan kegiatan membuat projek sesuai dengan pembahasan masing- masing kelompok dengan rancangan dan jadwal pelaksanaan yang sudah ditentukan sebelumnya
Masing- masing kelompok mulai melakukan kegiatan membuat projeknya sesuai dengan pembagian tugasnya
5
Menguji hasil
Guru memberikan penilaian untuk mengukur ketercapaian standar kompetensi terkait hasil projek yang dipresentasi oleh masing- masing kelompok Peserta didik mempresentasikan hasil projek didepan kelas secara bergantian dan kelompok lain di minta menanggapi dan memberikan umpan balik, baik bertanya maupun menambah jawaban. Guru dan Peserta didik menyimpulkan pembelajaran secara bersama
Masing- masing kelompok unjuk hasil dengan cara mempresentasi hasil projek didepan kelas secara bergantianKelompok lain menanggapi dan memberikan umpan balik, baik bertanyaMenyimpulkan hasil secara bersama
6
Mengevaluasi pengalaman
Guru dan Peserta didik melakukan refleksi terhadap aktifitas dan hasil projek yang sudah dilakukan serta menanyakan pengalaman yang dirasakan pada peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
Merefleksi aktifitas dan pengalaman yang dirasakan peserta didik selama proses pembelajaran langsung
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dirancang dalam dua siklus. Pada tahap perancangan dan pelaksanaan baik siklus satu maupun siklus dua adalah sama. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian Tindakan kelas. Mulyasa (2009:35) menyatakan bahwa penelitian Tindakan kelas adalah penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan kebenaran dan manfaat praktis dengan melakukan Tindakan secara kolaboratif dan partisipasif, yang melibatkan beberapa pihak yaitu guru, kepala sekolah maupun pihak dari luar dalam waktu yang bersamaan.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Mataram, Jl. Panji Tilar Negara No. 25, Kekalik Jaya, Kec. Sekarbela, Kota Mataram Nusa Tenggara Barat. Penelitian dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu pada semester genap mulai bulan Januari sampai dengan bulan Februari 2024. Pemberian tindakan dilakukan pada jadwal jam tatap muka penelitian yang merupakan hari/jam pelajaran dimana peneliti mengajar Sejarah di kelas X 7 yang menjadi subjek penelitian.
Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas X 7 SMA Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2023/2024 berjumlah 36 orang.
Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini menggunakan tes tulis, lembar observasi, dan lembar refleksi diri.
Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data
Terdapat dua sumber data dalam penelitian ini, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini diambil dari: 1) hasil pre-tes peserta didik sebelum tindakan berlangsung, 2) hasil lembar refleksi diri peserta didik, 3) hasil belajar peserta didik pada setiap siklus tindakan , 4) hasil observasi tentang sikap belajar peserta didik pada saat proses pembelajaran, 5) hasil observasi atau pengamatan mengenai kegiatan belajar dan sikap belajar peserta didik yang dikumpulkan selama tindakan berlangsung. Sumber yang kedua adalah sumber data sekunder pada penelitian ini diperoleh dari: 1) data mengenai jumlah peserta didik kelas X 7 yang diperoleh dari daftar hadir kelas, 2) data study pustaka yang menunjang penyusunan penelitian ini dengan menggunakan dua teknik yaitu tes dan non tes . Teknik tes yang digunakan bertujuan untuk mengukur kemajuan hasil belajar peserta didik menggunakan tes tulis. Sedangkan Teknik non tes berupa
observasi perilaku belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung dan lembar refleksi diri peserta didik setelah setiap siklus selesai dilaksanakan.
Alat-alat dalam pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: lembar soal pre tes sebelum siklus I tentang materi Proses masuknya agama Hindu- Budha di Indonesia; lembar rubrik penilaian (rubric assessment sheet) yang digunakan untuk mengukur kemampuan peserta didik pada materi Proses masuknya agama Hindu- Budha di Indonesia digunakan peneliti untuk menilai produk; lembar refleksi diri peserta didik digunakan untuk menggali keberhasilan, kendala, serta pembelajaran yang dihadapi oleh peserta didik dalam proses pembelajaran siklus I; studi pustaka tentang peningkatan hasil belajar pada materi Proses masuknya agama Hindu- Budha di Indonesia menerapkan pembelajaran diferensiasi untuk mendukung peneilitian ini, dokumentasi yang berupa foto-foto dan video berkaitan dengan kegiatan peserta didik pada setiap siklus pembelajaran.
Analisis Data
Peneliti menggunakan metode dalam menganalisis data penelitian berupa: 1) deskriptif, yang digunakan untuk upaya memecahkan masalah atau menjawab permasalahan yang dihadapi, 2) kualitatif, yaitu penggambaran dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan dengan kategori analisi data deskriptif kualitatif yaitu analisis data yang tidak dapat diukur melalui perhitungan dengan angka-angka melainkan dengan menggunakan kara-kata atau kalimat.
Untuk mengetahui validitas penelitian tindakan kelas ini menggunakan trianggulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber data berasal dari guru kelas, pesera didik dan rekan sejawat sebagai kolaborator. Sedangkan triangulator metode yaitu data dari pengumpulan dokumen, hasil observasi dan hasil tes tulis yang dilakukan.
Hasil akhir yang diharapkan pada penelitian tindakan kelas ini adalah ketercapaian peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia dan perubahan dalam motivasi belajar peserta didik agar peserta didik lebih aktif lagi dalam pembelajaran sejarah juga perubahan sikap belajar peserta didik yang disesuiakan dengan nilai kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah.
Tabel 1.2 Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)
No
Nilai KKTP
Predikat
1
≥94
Amat Baik
2
87-94
Baik
3
80-87
Cukup
4
<80
Kurang
Prosedur Penelitian
Rancangan penelitian ini dirancang dalam dua siklus yaitu siklus I dan siklus II dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi mulai dari diferensiasi proses, dan diferensiasi produk. Selain penerapan pembelajaran berdiferensiasi, penerapan model pembelajaran Project Based Learning dengan menggunakan metode diskusi kelompok dalam pembuatan keliping. Pemilihan model dan metode ini disesuaiakan dengan tujuan pembelajaran yang ingin di capai dalam Tujuan Pembelajaran 3.7 dan (Kurikulum Merdeka Revisi) untuk peserta didik kelas X 7 semester genap.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Kondisi Awal
Sebelum melakukan penelitian dengan menerapkan siklus pembelajaran, peneliti melakukan kegiatan pra siklus (pre test) dengan materi sejarah seputaran proses masuknya agama Hindu- Budha di Indonesia tanpa menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Pra siklus dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi awal peserta didik sebelum dilaksanakan tindakan siklus I. Hasil data yang diperoleh dari kondisi awal hasil belajar peserta didik kelas X 7 SMA Negeri 2 Mataram pada tes pra siklus diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1.3 Hasil Tes Pra Siklus
No
Nilai KKTP
Jumlah Siswa
Presentase %
Keterangan
1
≥ 94
0
0
Amat Baik
2
87-94
2
5,55%
Baik
3
80-87
11
30,56%
Cukup
4
<80
23
63,89%
Kurang
Jumlah
36
100%
Dari pemaparan data di atas dapat diketahui bahwa tidak ada peserta didik yang mendapatkan nilai amat baik, 2 orang peserta didik atau 5,55% mendapatkan nilai baik, 11 peserta didik atau 30,65% mendapat nilai cukup dan 23 peserta didik atau 63,89% mendapat nilai kurang. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa ketuntasan belajar secara klasikal diperoleh 63,89% dimana persentase ini masih kurang dari indikator nilai standar kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran yaitu 80.
Deskripsi Hasil Siklus I
Dari hasil tes pra siklus yang dilakukan peneliti, ditemukan masih banyak peserta didik yang belum mencapai target kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP), oleh karena itu peneliti mengambil tindakan pada siklus I dengan menggunakan pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran Projeck Based Learning yang membantu peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar pada materi sejarah Masuknya Agama Hindu- Budha di Indonesia. Dari siklus I diperoleh hasil pada pemaparan table di bawah ini:
Tabel 1.4 Hasil Tes Siklus I
No
Nilai KKTP
Jumlah Siswa
Presentase %
Keterangan
1
≥ 94
2
5,56%
Amat Baik
2
87-94
12
33,33%
Baik
3
80-87
18
50%
Cukup
4
<80
4
11,11%
Kurang
Jumlah
36
100%
Berdasarkan data di atas, diperoleh bahwa hasil belajar peserta didik pada materi sejarah seputaran kemerdekaan Indonesia melalui pembelajaran berdiferensiasi menggunakan model pembelajaran Projeck Based Learning mengalami peningkatan dimana 2 peserta didik atau 5,56% mendapatkan nilai amat baik, 12 peserta didik atau 33,33% mendapatkan nilai baik, 18 peserta didik atau 50% mendapatkan nilai cukup, sedangkan peserta didik yang mendapatkan nilai kurang berjumlah 4 orang atau 11,11%. Oleh karena itu, peneliti berupaya untuk lebih meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi sejarah Kerajaan- Kerajaa hindu- Budha di Indonesia dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi menggunakan model pembelajaran Projeck Based Learning pada siklus ke II sesuai dengan usulan observer (rekan sejawat) dan hasil belajar yang diperoleh pada siklus I.
Deskripsi Hasil Siklus II
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II memiliki alur yang berbeda dengan Materi Siklus I sama dengan skenario pembelajaran siklus I dengan menerapkan kembali pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran Projeck Based Learning dengan melibatkan seluruh peserta didik untuk aktif dalam mendesain projek dengan baik mengenai Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Pada siklus II perbaikan-perbaikan dilakukan dengan seoptimal mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik sehingga diperoleh hasil seperti terlihat pada table 1.5 di bawah ini:
Tabel 1.5 Hasil Tes dalam Siklus II
No
Nilai KKTP
Jumlah Siswa
Presentase %
Keterangan
1
≥ 94
9
25%
Amat Baik
2
87-94
22
61,11%
Baik
3
80-87
5
13,89%
Cukup
4
<80
0
0
Kurang
Jumlah
36
100%
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa hasil belajar peserta didik pada materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan model Projeck Based Learning metode Role Playing mengalami peningkatan. Dari 36 peserta didik yang menjadi sampel penelitian, terdapat 9 peserta didik atau 25% mendapatkan nilai amat baik, 22 peserta didik atau 61,11% mendapatnilai baik, terdapat 5 peserta didik atau 13,89% dengan nilai cukup, sedangkan tidak ada peserta didik yang mendapatkan nilai kurang. Dari data tersebut menunjukan bahwa pencapaian hasil belajar mengalami kenaikan dengan presentasi mencapai 100% dengan standar kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran 80. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran Projeck Based Learning menggunakan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik secara signifikan.
Dari data penelitian di atas, peneliti menyajikan hasil belajar peserta didik melalui komparisasi penilaian yang dimulai dengan pra siklus, siklus I, siklus II pada table 1.6 dan diagram di bawah ini.
Tabel 1.6 Komparisasi Persentase Hasil Belajar Antar Siklus
Nilai KKM
Persentase Hasil Belajar
PRA SIKLUS
SIKLUS I
SIKLUS II
≥ 94
0
5,56%
25%
87-94
5,55%
33,33%
61,11%
80-87
30,56%
50%
13,89%
<80
63,89%
11,11%
0
Gambar 1.1 Diagram Komparisasi Hasil Belajar Peserta Didik
Berdasarkan data pada table 1.6 dan diagram 1.1 di atas dapat dielaborasikan bahwa:
Hasil belajar peserta didik materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia dengan nilai amat baik pada pra siklus sebanyak 0%, sementara pada siklus I sebanyak 5,56% dan siklus II sebanyak 25%.
Hasil belajar peserta didik materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia dengan nilai baik pada pra siklus sebanyak 5,55%, sementara pada siklus I sebanyak 33,33% dan siklus II sebanyak 61,11%.
Hasil belajar peserta didik materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia dengan nilai cukup pada pra siklus sebanyak 30,56%, sementara pada siklus I sebanyak 50% dan siklus II sebanyak 13,89%.
Hasil belajar peserta didik materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia dengan nilai kurang pada pra siklus sebanyak 63,89%, sementara pada siklus I sebanyak 11,11% dan siklus II sebanyak 0%.
Berdasarkan data di atas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dari kondisi awal pra siklus diperoleh 36,11% menjadi 88,89% pada siklus I dan menjadi 100% pada siklus II dengan strander kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP) 80.
Hasil Non Tes
Hasil non tes mencakup hasil yang diperoleh dari hasil refleksi pembelajaran dan observasi. Hasil tersebut menunjukan bahwa peserta didik merasa senang, termotivasi dan kreatif sehingga lebih semangat dalam proses pembelajaran dan mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.
Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran menggunakan lembar refleksi yang telah direduksi bahwa peserta didik merasa senang belajar sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran Projeck Based Learning. Beberapa hal yang diperoleh dari data hasil reduksi bahwa peserta didik mengetahui sejarah yang terjadi sebelum terbentuknya kKerajaan- kerajaan Hindu- Budha di Indonesia erdasarkan fakta sejarah yang diperoleh.
Selanjutnya, berdasarkan data yang diperoleh dari lembar refleksi tentang hal yang telah dikuasai pada materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia diperoleh data dari hasil reduksi data bahwa peserta didik mampu merepresetasi hasil projeknya dalam bentuk keliping mengenai warisan peninggalan kerajaan- kerjaan Hindu- Budha di Indonesia di depan kelas secara berkelompok.
Lebih lanjut, hal yang menarik Ketika dilaksanakan pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran Projeck Based Learning pada materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia diperoleh data dari hasil reduksi data bahwa peserta didik senang belajar secara berkelompok dan pengelompokan sesuai dengan minat masing-masing. Selain itu peserta didik senang dapat melakukan diskusi karena banyak pertimbangan pendapat yang berbeda-beda dalam menyusun hasil projek dalam bentuk keliping dan ditampikan di depan kelas dengan di saksikan oleh teman kelompok lain di dalam kelas.
Hal terakhir diperoleh data dari hasil reduksi data tentang hal yang tidak menarik dalam pembelajaran peserta didik memberikan respon bahwa mereka menikmati pembelajaran tersebut karena menggunakan metode yang berbeda yang belum pernah mereka dapatkan selama mereka melakukan pembelajaran sejarah sehingga pembelajaran tersebut sangat menarik perhatian mereka.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik merasa senang terhadap pembelajaran sejarah dilakukan menggunakan cara pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran Projeck Based Learning pada materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia sehingga meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Pembahasan
Penelitian yang dilakukan pada kelas X 7 SMA Negeri 2 Mataram diperoleh bahwa hasil belajar peserta didik menggunakan cara pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran Projeck Based Learning pada materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia ketuntasan belajar mengalami peningkatan dari kondisi awal pra siklus diperoleh 36,11% menjadi 88,89% pada siklus I dan 100% pada siklus II dengan standar kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran 80. Hal ini diartikan bahwa terjadi sebuah perubahan yang signifikan pada hasik belajar peserta didik yang mencakup pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada teori penelitian tentang hasil belajar (Sudjana, 2005:20).
Penelitian ini juga melibatkan teman sejawat yang berperan sebagai pengamat saat penerapan siklus pembelajaran di jalankan. Berdasarkan hasil pengamatan rekan sejawat pada siklus I, menampilkan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan kondusif sejalan dengan kemampuan dan cara guru dalam mengelola kelas juga menghadirkan konsep pembelajaran berdiferensiasi yang proaktif dengan materi pembelajaran yang sesuai dengan minat, kesiapan peserta didik, dan profil belajarnya yang hasilnya mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik menjadi lebih baik (Suwartiningsih, 2021). Pembelajaran berdiferensiasi juga diartikan sebagai pembelajaran yang berkaitan dengan kesiapan peserta didik, minat, latar belakang pengetahuan, pengetahuan guru, perencanaan dan pelaksanaan desain pembelajaran yang memberikan rentan pengalaman pada konten, kegiatan, dan skala pembelajaran yang sesuai untuk peserta didik. Pada penerapan pembelajaran berdiferensiasi diharapkan mampu untuk mendapatkan peningkatan kualitas belajar dari setiap siklus yang di jalankan. Dan berdampak pada peningkatan hasil belajar peserta didik karena antusias, semangat, dan motivasi peserta didik untuk mencapai prestasi yang tinggi.
Era transformasi pendidikan pada kurikulum merdeka menekankan pada bagaiamana guru memfasilitasi proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta guru dapat melihat perbedaan kemampuan capaian hasil belajar yang dimili peserta didik juga gaya belajar setiap anak agar bisa disesuaikan saat proses belajar mengajar berlangsung. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik telah di sajikan dalam bentuk video presentasi, video rekaman presentasi visual, rekaman suara dan aktivitas pembelajaran yang ada di https://drive.google.com/drive/folders/1IbIweBE1ovRl5aSqxk0pi61J7TZDb7wt?usp=drive_link. Hal ini sesuai dengan penuturan Wijayanti, 2011 mengatakan bahwa perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (learning centered) diharapkan dapat mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, maka mereka memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning) dan pada akhirnya akan meningkatkan mutu dari peserta didik itu sendiri.
Lebih lanjut, peningkatan hasil belajar peserta didik pada materi sejarah seputaran proklamasi kemerdekaan Indonesia dilakukan menggunakan cara pendekatan pembelajaran berdiferensiasi dengan model pembelajaran Projeck Based Learning pada siklus II merupakan perbaikan beberapa hal pada proses pembelajaran dari siklus I sehingga beberapa kendala yang menjadi kekurangan peserta didik menjadi tidak tampak. Peningkatan hasil belajar tersebut ditandai dengan meningkatnya kreativitas, semangat dan motivasi, serta suasana belajar yang menyenangkan.
Peningkatan hasil belajar yang signifikan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya eksternal dan internal pada peserta didik. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhinya diantaranya: kompetensi pedagogic maupun professional guru mata pelajaran, konten materi pembelajaran yang mudah di pahami oleh peserta didik, proses pembelajaran yang sistematis, lingkungan kelas yang aman dan nyaman, serta dukungan komunitas belajar peserta didik yang saling berkerjasama antar datu dengan yang lainnya. Selain itu beberapa faktor internal yang terdapat pada peserta didik antara lain : ketekunan, semangat, kerja sama, dan kreativitas mereka yang mendukung antar satu dengan lainnya (Dalyono, 2009).
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil pembahasan, dikemukakan kesimpulan sebagai jawaban pada rumusan pertanyaan peneliti diantaranya:
Penerapan pembelajaran berdiferensiasi menggunakan model pembelajaran Project Based Learning pada materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia di kelas X 7 SMA Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2023/2024 berjalan dengan baik dan sesuai denganapa yang telah di rancang dalam rancangan proses pembelajaran yang telah di susun
Peningkatan hasil belajar melalui pembelajaran berdiferensiasi menggunakan model pembelajaran Project Based Learning dapat terlihat dari meningkatnya rasa senang, semangat dan motivasi peserta didik dalam memahami materi sejarah Kerajaan- Kerajaan Hindu- Budha di Indonesia yang dipengaruhi pula oleh faktor internal dan eksternal.
Ada beberapa saran dari hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan penelitan ini diantaranya:
Bagi guru mata pelajaran sejarah hendaknya perlu mengaplikasikan pembelajaran berdiferensiasi yang di kombinasikan dengan model maupun metode manapun saat proses pembelajaran sebagai upaya untuk memberikan pembelajaran yang berkualitas untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Sekolah perlu untuk terus mensosialisasikan pembelajaran paradigma baru yang berpusat pada peserta didik yaitu pembelajaran berdiferensiasi agar kecakapan guru dalam mengajar bisa relevan dengan perubahan jaman yang terjadi saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dalyono, M. (2009). Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta
Darmawan, P.A dan Sukojo. E. (2013). Revisi Taksonomi Pembelajaran Benyamin.
S. Bloom: Satya Widya, Vol. 29, No. 1. Juni 2012: 30-39
Dedi Iskandar (2021). Peningkatan Hasil Belajar Siswa Pada Materi Report Text Melalui Pemblejaran Berdiferensiasi di Kelas XI. A SMPN 1 Sape Tahun Pelajaran 2020/2021. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 1(2), 129-138
Hamalik, O. (2001). Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara: Jakarta Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kencana: Jakarta
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran IPA Pokok Bahasan
Monta Tahun Pelajaran 2020/2021. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 1(2), 80-94.
Mulyasa, E. (2009). Praktik Penelitian Tindakan Kelas. PT. Remaja: Bandung Nurlimah Sugiarti (2022). Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Pelajaran
Bahasa Indonesia kelas IV SD Insan Mulya Kota Baru Driyorejo Gresik. Bapala : Vol. 9. No. 9. 2022, 157-164
Rosdakarya. Purwanto. (2008). Evaluasi Hasil Belajar. Pustaka Pelajar: Bandung Sinar Baru Algesindo: Bandung
Sudjana, N dan Ibrahim. (2009). Penelitian dan Penilaian Pendidikan.
Sudjana, N. (2005). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya: Bandung
Sunismi, Werdianingsih, D., Wahyuni, S (2022). Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning). CV. Literasi Nusantara Abadi: Malang
Suparwoto. (2004). Kemampuan Dasar Mengajar. FIP Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta
Suwartiningsih, S. (2021). Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi untuk
Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan di Kelas IXb Semester Genap SMPN 4
Sumaatmadja, N. dkk. (2007). Konsep Dasar IPS. Jakarta: Depdiknas UT
Tomlinson, Caarol Ann & Moon, T. (2014). Assessment in a differentiated classroom. Proven Programs in Education. Classroom Management and Assessment, 1-5
Trianto. (2011). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep,
Wiwik Wijayanti. (2011). Student Centered; Paradigma Baru Inovasi Pembelajran: Majalah Ilmiah Pembelajaran, Vol.7, No. 1. Mei 2011: 65-69
Perpustakaan SMAN 2 Mataram mendapatkan prestasi tertinggi di Nusa Tenggara Barat dalam Lomba Perpustakaan Sekolah Jenjang SMA, MA, SMK Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2024. Penghargaan atas prestasi sebagai juara I tersebut diterima langsung oleh Kepala SMAN 2 Mataram, Abdul Kadir Alaydrus, S.P., M.Pd. dan Kepala Perpustakaan SMAN 2 Mataram, Herlyana Hasyim, M.A. TESOL di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Kamis, 25 Juli 2024. Penghargaan berupa piagam, plakat, dan uang pembinaan diserakan oleh Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, H. Amir, S.Pd., M.M. Hadir juga dalam penyerahan penghargaan tersebut Deputi Bank Indonesia, akademisi perguruan tinggi di Mataram, seluruh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan kabupaten dan kota di provinsi NTB, dan para kepala sekolah pemenang lomba. Dalam lomba Lomba Perpustakaan Sekolah Jenjang SMA, MA, SMK tahun ini, juara II diraih SMAN 1 Gunung Sari dan juara III diperoleh SMAN 2 Sumbawa Barat.
Kepala SMAN 2 Mataram, Abdul Kadir Alaydrus, S.P., M.Pd menjelaskan bahwa prestasi SMAN 2 Mataram sebagai juara pertama ini merupakan hasil dari kerja keras pihak sekolah, mulai dari kepala sekolah, kepala perpustakaan, pegawai perpustakan, serta guru-guru yang memfasilitasi dan membenahi perpustakaan, dan peran serta siswa yang memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar. “Pembenahan perpustakaan sebagai sumber belajar sebenarnya telah kita lakukan sejak sebelum lomba Perpustakaan Sekolah Jenjang SMA, MA, SMK Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Barat Tahun 2024. Kita menyadari bahwa peran perpustakaan memang sangat penting dalam mengembangkan pengetahuan, wawasan, dan karakter siswa, sehingga pembenahan dan peningkatan pelayanan di perpustakaan memang menjadi salah satu fokus kita di SMAN 2 Mataram tahun ini. Saat akan mengikuti lomba kita optimalkan lagi pembenahan dan penataan perpustakaan. Kita membenahi sarana dan prasarana penunjang serta meningkatkan kualitas pegawai dan pelayanan perpustakaan,” ujar beliau seraya menyampaikan terima kasih pada semua pihak yang telah berpartisipasi mengembangkan Perpustakaan SMAN 2 Mataram.
Kepala Perpustakaan SMAN 2 Mataram, Herlyana Hasyim, M.A. TESOL menjelaskan bahwa juara I tingkat provinsi Perpustakaan SMAN 2 Mataram akan mewakili NTB ke Lomba Perpustakaan Tingkat Nasional dan termasuk dalam klaster III bersama dengan beberapa provinsi lainnya dari pulau Kalimantan, Sulawesi, dan NTT. Sesuai dengan jadwal, visitasi juri nasional ke SMAN 2 Mataram akan dilaksanakan tanggal 8 Agustus 2024.
Herlyana Hasyim memaparkan berbagai upaya perpustakaan Smanda sehingga bisa meraih prestasi tertinggi di NTB tahun ini. Selain melakukan kegiatan pelayanan rutin, diadakan pula kegiatan peningkatan dan pengembangan baik untuk staf atau pegawai perpustakaan maupun untuk siswa, misalnya kegiatan pelatihan manajemen digital dengan komputer untuk staf, pelatihan pustakasis, lomba mading digital, kompetisi literasi, pelatihan penulisan karya ilmiah, pelatihan Bahasa isyarat, webinar literasi, dan bedah buku.
SMAN 2 Mataram (8/05/2024) – Tahun pelajaran 2023/2024 untuk siswa kelas XII telah resmi berakhir setelah pada tanggal 6 Mei 2024 pengumuman kelulusan dirilis resmi oleh sekolah. 400 siswa kelas XII Angkatan 42 lulus 100 persen dan resmi menjadi Alumni 47 SMAN 2 Mataram.
Kegiatan pisah-lepas kelas XII pun digelar 2 hari setelah pengumuman. Pisah -lepas tahun ini dirangkai dengan pagelaran seni dan budaya dari beberapa ekstrakurikuler SMAN 2 Mataram seperti, Tari Tradisional, Hipobee, Paduan Suara, dan Grup Band sekolah dan alumni 47. Kegiatan pisah lepas diawali dengan sambutan dan kata-kata pelepasan dari kepala SMAN 2 Mataram, Abdul Kadir Alaydrus, S.P., M.Pd. yang memberikan ucapan selamat dan mengucapkan maaf mewakili bapak Ibu guru serta meminta siswa kelas XII yang telah menjadi alumni untuk menjaga nama baik pribadi, keluarga dan sekolah di manapun berada. Kemudian kata-kata pelepasan dan pesan-kesan juga diberikan oleh perwakilan kelas XII oleh Khalisha Aulia Naila (Ketua OSIS demiisoner) dan perwakilan kelas XI oleh M. Naufal Putra Setyawan (Ketua OSIS aktif).
Acara dilanjutkan dengan penyerahan piagam penghargaan dan bingkisan dari siswa-siswi berprestasi. Penghargaan dibuat dalam 3 kategori yaitu prestasi akademik, non akademik dan dedikasi. 15 siswa terpilih berdasarkan prestasi yang mereka raih selama kurang lebih 3 tahun belajar dan berkegiatan di SMAN 2 Mataram.
Berikut nama-nama siswa kelas XII alumni 47 yang masuk kategori berprestasi dan berdedikasi: Berprestasi MIPA: Juara Umum 1: Hawwa Shakila Abida (XII.MIPA.1), Juara Umum 2: Adrian Dwi Mahendra (XII.MIPA.1), dan Juara Umum 3: Alvyan Ananta Asis (XII.MIPA.1). Berprestasi IPS: Juara Umum 1 Meisya Putri Amaria (XII.IPS.1), Juara Umum 2: Claudia Ivana Vivian Tungga (XII.IPS.4), dan Juara Umum 3: Bernadetta Ardhyana Kusu (XII.IPS.1). Berprestasi Akademik dan Non Akademik T.P. 2023/2024: Olimpiade Bidang Studi Matematika: Kalfin Jefwin Setiawan Gultom (XII.MIPA.1), Jurnalistik: Meisya Putri Amaria (XII.IPS.1), Olahraga Aidil Yoga Saputra (XII.IPS.2), dan Sastra & Literasi: Baiq Khairina Mardiyani (XII.MIPA.3). Sementara itu siswa berdedikasi dalam OSIS Demisioner: Ketua: Khalisha Aulya Naila (XII.MIPA.1), Wakil Ketua I: Natasya Aulia Putri (XII.MIPA.1), Wakil Ketua II: Alvyan Ananta Asis (XII.MIPA.1), Sekretaris: Baiq Chayla Nakeisha (XII.MIPA.1), dan Bendahara: Inayah Irsya Rabbani (XII.MIPA.1).
Pisah-lepas kali ini juga dimeriahkan dengan pemilihan King dan Queen Alumni 47 dan beberapa kategori siswa TER (terajin, terdisiplin, termalas, teraktif, tergalak, dan terlucu) dari kalangan siswa kelas XII Angkatan 47. Terpilih melalui voting Angkatan kelas, pemenang Queen atas nama Dinda Rahma Dewi (kelas XII.MIPA.8) dan pemenang King atas nama Edson Miguel Arantes do Nascimento (kelas XII.MIPA.2). King dan Queen terpilih akan menjadi duta Angkatan 47 dan menjadi jembatan penghubung alumni dengan sekolah.
Jelang akhir acara, kepala sekolah secara resmi mengembalikan siswa kelas XII kepada orang tua/wali yang diwakili oleh pengurus Komite SMAN 2 Mataram. Pengurus Komite, menerima dengan penuh hati dan rasa bangga seluruh siswa kelas XII yang telah dibimbing, dibina dan diberikan pelayanan tyerbaik selama 3 tahun menimba ilmu di SMAN 2 Mataram.
Kegiatan diakhiri dengan pisah-lepas dengan wali kelas sekaligus pengalungan Gordon tanda kelulusan siswa kelas XII. Rasa haru dan bangga bercampur aduk di SMAN 2 Mataram. Wali kelas, guru BK dan siswa binaan tidak ingin melewati momen terakhir di sekolah dengan berfoto bersama.
Sukses terus untuk kelas XII alumni 47 SMAN 2 Mataram!
SMAN 2 Mataram (7/05/2924) – Bertempat di SMA Negeri 2 Mataram kegiatan semarak hari Ulang Tahun (HUT) SMA Negeri 2 Mataram ke 47 tahun diawalai dengan jalan sehat tepat pukul 07.00 WITA. Rombongan keluarga besar dilepas secara resmi oleh Kepala SMAN 2 Mataram, Bapak Abdul Kadir Alaydrus, S.P., M.Pd. Rombongan jalan sehat dikomandoi oleh pasukan paskib dan dan diikuti oelh Bapak Ibu guru dan pegawai SMAN 2 Mataram. Sementara itu, seluruh siswa kelas X dan XI mengikuti rombongan dengan memakai kaos atau atribut kelas masing-masing. Selama jalan santai, seluruh peserta dibagikan kupon undian berhadiah yang telah disiapkan oleh panitia. Jeln santai kali ini melewati jalur mengitari sekolah dimulai dari jalan Panji Tilar negara, Jalan Swakarya, Jalan Majapahit, dan Kembali lagi ke Jalan Panji Tilar Negara.
Berbagai rangkaian acara disiapkan untuk menyemarakkan HUT kali ini. Selain undian berhadiah, ada juga hiburan dari beberapa ekstrakurikuler sekolah seperti Paduan suara dan Hipobee. Termasuk juga lomba-lomba menarik bagi guru dan siswa seperti lomba estafet pindah bola, pecahkan balon, balap bakiak dan memindahkankan tepung/papan/sarung yang telah dipersiapkan oleh OSIS SMAN 2 Mataram. Puncak acara HUT ditandai dengan pemotongan tumpeng dan pelepasan burung dara oleh tim manajemen. Bapak ibu guru, pegawai dan siswa kemudian bersama-sama menyanyikan lagu selamat ulang tahun yang menambah kemeriahan acara.
Yang paling menarik, sejak tahun lalu, sekolah juga menyertakan puncak pembelajaran P5 Kurikulum Merdeka yaitu Panen Karya. Tahun ini, siswa kelas X dan XI mendapat kesempatan memamerkan hasil karya P5 mereka di semester genap ini. Hasil karya yang dipamerkan disesuiakan dengan tema P5 antaran lain: tema Berkhebinekaan Global dengan hasil karya miniatur rumah adat dari berbagai daerah di Indonesia dilengkapi dengan deskripsi dalam 2 bahasa (Indonesia dan Asing), tema kewirausahaan dengan hasil karya tote-bag, tema kearifan local dengan hasil karya tarian daerah dan video permainan tradisional, tema bangunlah jiwa raganya dengan hasil karya video senam kreasi, tema suara demokrasi dengan hasil karya simulasi pemilihan umum ketua OSIS dan produk kesenian lain seperti lukisan, fotografi, dan lain sebagainya.
Ulang tahun ke 47 SMAN 2 Mataram tahun ini sangat meriah dan peserta sangat bersemangat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Semoga di usianya yang ke-47 tahun, SMAN 2 Mataram semakin sukses mencetak lulusan yang berkualitas dan menjadi sekolah unggulan khususnya di provinsi Nusa Tenggara Barat.
Selamat HUT SMAN 2 Mataram ke-47 tahun. Jayalah SMANDA!
Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi seluruh umat Islam di dunia. Ramadhan penuh keberkahan sehingga kedatangannya selalu ditunggu-tunggu seluruh umat Islam yang bertaqwa. Umat Islam yang berpuasa di bulan Ramadhan dipastikan mendapat banyak keberkahan. Oleh karena itulah, keluarga besar SMAN 2 Mataram setiap tahun menyemarakkan bulan Ramadhan di tengah kesibukan kegiatan pembelajaran di sekolah.
Tahun ini, 1445 H yang bertepatan dengan tahun 2024 M, melalaui panitia yang dibentuk oleh Kepala SMAN 2 Mataram, Abdul Kadir Alaydrus, S.P.,M.Pd., Smanda Mataran mengisi Ramadhan dengan berbagai kegiatan.
Imtaq Pagi
Kegiatan Imtaq Pagi dilaksanakan selama 30 menit yakni dari pukul 07.30 – 08.00 atau 30 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Dalam imtaq pagi ini ada tiga rangkaian acara yakni: (1) pembacaan ayat suci Al-Qur’an secara bersama-sama yang dipandu dari ruang kontrol, (2) pembacaan terjemahan dari ayat –ayat yang sudah dibacakan, dan (3) penyampaiak kultum atau nasihat-nasihat agama. Pembacaan ayat suci Al-Qur’an dilakukan dan dipandu oleh siswa, terjemahannya juga dibaca oleh siswa, sedangkan kultum disampaikan secara bergilir oleh Bapak dan Ibu guru.
Siswa yang nonmuslim juga melaksanakan imtaq dibimbing dan didampingi oleh guru agama masing-masing.
Buka Puasa Bersama
Kegiatan Buka Puasa Bersama dilaksanakan beberapa kali. Buka puasa bersama keluarga besar dilaksanakan 17 Ramadhan 1445 H atau 27 Maret 2024. Pada tahun ini acara buka puasa bersama menjadi lebih berkesan karena juga diikuti oleh 22 siswa dan 4 guru Cristian College Geelong (CCG), Negara Bagian Victoria, Australia, yang sedang mengadakan Kunjungan Singkat selama sepekan di SMAN 2 Mataram. Kegiatan kunjungan ini merupakan realisasi kerja sama SMAN 2 Mataran bersama CCG yang sudah berlangsung selama 30 tahun.
Kegiatan buka bersama lainnya dilaksanakan oleh masing-masing ekskul SMAN 2 Mataram.
Peringatan Nuzulul Qur’an
Peringatan Nuzulul Qur’an dilaksanakan tanggal 17 Ramadhan 1445 H. Peringatan ini diisi dengan acara pokok yakni uraian hikmah Nuzulul Qur’an yang disampaikan oleh TGH. Muharrar Iqbal, M.A. Acara dihadiri semua komponen keluarga besar Smanda.
Pengumpulan dan Pembagian Zakat Fitrah
Melalui aktivitas siswa-siswa ekskul FSII (Forum Studi Islam Intensif) Smanda melakukan pengumpulan dan penyaluran zakat fitrah. Kegiatan didampingi semua guru Agama Islam. Pengumpulan dilakukan dari guru maupun siswa, sedangkan penyaluran dilaksanakn dengan sasaran siswa-siswa Smanda (yang mendapat KIP dan PKH) serta masyakat yang berhak menerima yang tinggal sekitar sekolah, yakni di 4 lingkungan sekitar Kekalik.
Pembagian Takjil Gratis
Kegiatan Pembagian Takjil Gratis dilakukan beberapa kali. Kegiatan besar dikoordinasikan dan dilaksanakan oleh Pengurus Darma Wanita SMAN 2 Mataram, sedangakn pembagaian takjil lainnya dilaksanakan oleh beberapa ekskulk Smanda.
Halal Bihalal
Kegiatan hala bihala Keluarga Besar Smanda direncanakan saat hariu pertama masuk sekolah pascalbur idul fitri 1445 H.
Abstrak: Penelitian ini bertujuan (1) untuk mengetahui respon peserta didik terhadap pelaksanaan model pembelajaran Problem-Based Learning di kelas X.4 SMA Negeri 2 Mataram (2) untuk mengetahui hasil belajar peserta didik terhadap pelaksanaan model pembelajaran Problem-Based Learning di kelas X.4 SMA Negeri 2 Mataram. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X.4 SMA Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2023/2024 berjumlah 36 peserta didik. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 1) respon peserta didik, 2) hasil belajar. Data respon peserta didik dikumpulkan dengan angket respon peserta didik. Data hasil belajar dikumpulkan dengan tes dan penugasan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa. 1) Respon peserta didik terhadap penerapan model pembelajaran Problem-based Learning pada siklus 1 tergolong cukup positif. Pada siklus II respon peserta didik terhadap model pembelajaran Problem-Based Learning tergolong Positif. 2) Nilai hasil belajar peserta didik siklus I rata-rata nilai hasil belajar peserta didik adalah 88,89% Pada siklus II rata-rata nilai hasil belajar peserta didik adalah 100%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Problem-Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X.4 SMA Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2023/2024.
Kata kunci: Model pembelajaran Problem-based Learning, respon, hasil belajar
Abstrak: This research aims (1) to know the students response against the implementation model of learning, Problem-Based Learning in class X.4 SMA Negeri 2 Mataram (2) to know the student achievement of the implementation of the model of learning Problem-Based Learning in class X.4 SMA Negeri 2 Mataram. This research was action class research which was conducted in two cycles. The subject was students of class X.4 SMA Negeri 2 Mataram in the academic year 2023/2024 consisted of 36 students. The data in this study were 1) students response, 2) students achievement. The Data of the students response was collected by using students response sheet. The students achievement data was collected by using tests and assignments. The Data obtained were analyzed by quantitative descriptive. The results of the research showed that. 1) the students response against the application of the learning model of Problem-based Learning in cycle 1 was quite positive. Cycle II students response to model learning Problem-Based Learning was positive. 2) the students achievement score in cycle 1 the average scre of the students achievement was 88,89 % In cycle II, the average scre of the students achievement was 100 %. The results showed that the application of the learning model of Problem-Based Learning could improve the students achievement of class X.4 SMA Negeri 2 Mataram in the academic year 2023/2024.
PENDAHULUAN
Belajar merupakan aktivitas atau proses untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan keterampilan, memperbaiki perilaku, sikap dan mengokohkan kepribadian (Suyono, Hariyanto: 2014). Berbicara masalah pendidikan, pada dasarnya merupakan sarana strategis dalam meningkatkan potensi pengetahuan agar peserta didik dapat mengambangkan kreatifitas, kemampuan individu dan tataran kehidupan masyarakat. Pengembangan sumber daya manusia menjadi tugas dan tanggung jawab pendidik dalam menuntun potensi-potensi tiap peserta didik dengan memfasilitasi kebutuhannya sehingga mampu menyerap dan memahami apa yang disampaikan dan dipelajari untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Identifikasi yang dilakukan menunjukan bahwa pelaksanaan proses pembelajaran masih belum banyak perubahan. Pembelajaran dilakukan dengan menerapkan sistem pembelajaran yang melihat semua peserta didik itu sama, baik dari gaya belajar dan capaian hasil belajar. Hal ini dikarenakan guru tidak melihat keberagaman dan kemampuan peserta didik. Guru seolah-olah mengajari satu orang peserta didik dalam satu kelas, sedangkan dalam satu kelas tersebut terdapat 36 peserta didik yang mempunyai keunikan, kemampuan dan keberagaman pengalaman belajar. Dari keberagaman tersebut guru hanya menggunakan satu treatmen pembelajaran yang bisa dikatakan kurang mengakomodir seluruh kebutuhan peserta didik, sehingga tidak jarang pembelajaran yang disampaikan sulit untuk diterima oleh peserta didik dan menjadikan motivasi belajar kurang. Seorang pendidik haruslah sadar bahwa setiap anak adalah unik. Mereka memiliki karakteristik yang berbeda antara satu anak dengan yang lainnya.
Tahapan atau sintaks model Problem Based Learning (PBL) menurut Mohamad Nur (2006) dalam Sakti 2019 adalah: 1) mengorientasi peserta didik pada masalah 2) mengorganisasi peserta didik belajar 3) membimbing penyelidikan individual maupun kelompok 4) membimbing pengembangan dan penyajian hasil penyelesaian masalah 5) melakukan analisis dan mengevaluasi proses penyelesaian masalah. Pemberian masalah yang autentik dan kontekstual akan meningkatkan minat peserta didik karena sangat relevan dengan lingkungan tempat tinggal dan kejadian yang sering dijumpai oleh peserta didik. Masalah yang kontekstual ini juga akan memeberikan pengetahuan yang konkret sehingga pengetahuan peserta didik tidak abstrak. Dengan demikian, peserta didik akan memperoleh pemahaman yang bermakna dan tidak hanya menghapal materi.penelitian ini mempunyai tujuan untuk untuk menyusun dan mendeskripsikan kajian mengenai:
Bagaimana penerapan pembelajaran menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) dalam pelajaran geografi kelas X.4 di SMA Negeri 2 Mataram dilaksanakan ?
Bagaimana peningkatan hasil belajar peserta didik terhadap strategi pembelajaran menggunakan Problem Based Learning (PBL) dalam pelajaran geografi kelas X.4 di SMA Negeri 2 Mataram?
KAJIAN TEORI
Problem Based Learning (PBL)
Model pembelajaran dengan menggunakan problem based learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran student center. Proses pembelajaran dengan PBL menghadirkan masalah yang nyata sebagi sumber belajar sehingga peserta didik dapat memecahkan masalah serta mencari jalan keluarnya. Menurut Peserta didikntoro (Aulia & Budiarti 2022) pembelajaran Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pengajaran yang bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks yang diberikan oleh guru untuk peserta didik agar dapat belajar berfikir kritis dan memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah, serta memperoleh pengetahuan yang belum diketahui sebelumnya. Penggunaan model pembelajaran sangat dianjurkan guna menimbulkan semangat belajar, motivasi belajar, merangsang peserta didik berperan aktif dalam proses pembelajaran
2. Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2005:20) hakikat hasil belajar adalah perubahan tingkah laku individu yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Faktor yang datang dari dalam peserta didik terutama kemampuan yang dimilikinya dan memiliki pengaruh yang besar terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki peserta didik, juga ada faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, factor fisik dan psikis.
Dalam sistem Pendidikan nasional rumusan tujuan Pendidikan, baik tujuan kurikuler, maupun tujuan instruksional, menggunakan hasil belajar dari Anderesen (Darmawan dan Sujoko, 2013:35) yang secara garis besar membaginya dalam tiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik.
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif adalah perubahan perilaku yang terjadi dalam Kawasan kognisi. Secara hirarki tingkat hasil belajar kognitif mulai dari yang paling rendah dan sederhana haitu hafalan sampai yang paling tinggi dan kompleks yaitu evaluasi. Enam tingkatan itu adalah Pengetahuan (C1), Pemahaman (C2), Penerapan (C3), Analisi (C4), Evaluasi (C5), dan Menciptakan (C6).
b. Ranah afektif
Kreatwohl (Purwanto, 2008:51) membagi belajar afektif menjadi tiga tingkatan, yakni penerimaan (merespon rangsangan), organisasi (menghubungkan nilai-nilai yang dipelajari), dan internalisasi (menjadikan nilai-nilai sebagai pedoman hidup). Hasil belajar disusun secara hirarkis mulai dari tingkat yang paling rendah hingga yang paling tinggi..
c. Ranah psikomotorik
Simpson (Purwanto, 2008:52) mengklasifikasikan hasil belajar psikomotorik menjadi enam yaitu persepsi (membedakan gejala), kesiapan (menempatkan diri untuk memulai suatu gerakan), gerakan terbimbing (meniru model yang dicontohkan), gerakan terbiasa (melakukan gerakan tanpa model hingga mencapai kebiasaan), gerakan kompleks (melakukan serangkaian gerakan secara berurutan), dan kreativitas (menciptakan gerakan dan kombinasi gerakan baru yang orisinil atau asli).
Ketiga ranah tersebut menjadi objek penilaian hasil belajar sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Manusia memiliki potensi perilaku kejiwaan yang dapat di didik dan perilaku yang dapat diubah meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.
3. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Dalyono (2009:55) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi Kesehatan, intelegensi, dan bakat, minat dan motivasi juga cara belajar. Sedangkan faktor eksternal meliputi keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar.
a. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri, meliputi:
Kesehatan
Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Bila seseorang tidak sehat dapat mengakibatkan ketidak bergairahan untuk belajar. Demikian pula jika Kesehatan rohani kurang baik dapat dapat mengurangi semangat belajar.
Intelegensi dan bakat
Kedua aspek kejiwaan ini besar sekali pengaruhnya terhadap kemampuan belajar. Seseorang yang memiliki intelegensi tinggi (IQ-nya) tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya cenderung baik. Sebaliknya orang yang intelegensinya rendah cenderung mengalami kesulitan dalam belajar, lambat berpikir sehingga hasil belajar pun rendah.
Minat dan motivasi
Minat dan motivasi adalah dua aspek psikis yang besar pengaruhnya terhadap hasil belajar yang akan dicapai. Seseorang yang belajar dengan motivasi yang kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh, penuh gairah dan semangat. Kuat lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi hasil belajar. Minat dan motivasi belajar ini dapat juga dipengaruhi oleh cara guru dalam menyampaikan materi pembelajaran.
Cara belajar
Cara belajar seseorang juga mempengaruhi capaian hasil belajar. Belajar tanpa memperhatikan Teknik atau faktor fisiologis, psikologis, dan ilmu Kesehatan akan memperoleh hasil belajar yang kurang memuaskan. Cara belajar tiap anak berbeda-beda. Ada anak yang dapat dengan cepat menyerap pembelajran dengan metode visual atau melihat objek sebagai media pembelajarannya.
b. Faktor eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri, meliputi:
Keluarga
Keluarga sangatlah besar pengaruhnya terhadap keberhasilan peserta didik dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurang perhatiandan bimbingan orang tua, kerukunan antar anggota keluarga, hubungan antar anak dengan anggota keluarga yang lain, situasi dan kondisi rumah juga mempengaruhi hasil belajar.
Sekolah
Keadaan sekolah tempat belajar mempengaruhi keberhasilan belajar. Kualitas guru, metode mengajar, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan peserta didik, keadaan fasilitas di sekolah, keadaan ruangan belajar, jumlah peserta didik perkelas, pelaksanaan tata tertip sekolah, dan lain sebagainya. Semua hal ini mempengaruhi hasil belajar peserta didik. Metode mengajar dengan model kooperatif learning misalnya, mengajar peserta didik belajar berkelompok sehingga dapat merangsang untuk terjadinya interaksi dengan teman lainnya.
Masyarakat
Kondisi masyarakat disekitar lingkungan tempat tinggal peserta didik juga dapat mempengaruhi hasil belajar. Bila di sekitarnya merupakan merupakan masyarakat yang terdiri dari orang-orang yang berpendidikan, akan mendorong peserta didik lebih giat lagi dalam belajar. Sebaliknya jika lingkungan sekitar tempat tinggal peserta didik banyak anak-anak yang nakal, pengangguran, tidak bersekolah maka akan mengurangi semangat belajar sehingga motivasi dan hasil belajar berkurang.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang menyebabkan tingkat hasil belajar peserta didik. Selain faktor dari dalam lingkungan sekolah, terdapat juga faktor dari luar lingkungan sekolah yang keseluruhannya dapat membawa dampak baik maupun buruk untuk peserta didik. Metode pengajar yang di terapkan oleh guru adalah salah satu faktor penting untuk meningkatkan kemampuan dan capaian hasil belajar peserta didik. Jika seorang guru berhasil dalam memberikan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna pada peserta didik, maka mereka akan termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar mereka.
4. Manfaat Hasil Belajar
Hasil belajar bermanfaat untuk mengetahui capaian dari proses pembelajaran yang telah dilalui oleh peserta didik. Menurut Sudjana dan Ibrahim (2009:3) mengatakan bahwa hasil belajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku seseorang, yang mencakup kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik setelah mengikuti suatu proses belajar mengajar tertentu. Pendidikan dan pengajaran dikatakan berhasil apabila perubahan-perubahan yang tampak pada peserta didik merupakan akibat dari proses belajar mengajar yang dialaminya dan merupakan proses yang ditempuh melalui program dan kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru dalam proses pengajarannya.
Hasil belajar harus menunjukan perubahan keadaan menjadi lebih baik, sehingga bermanfaat untuk: a) menambah pengetahuan, b) lebih memahami sesuatu yang belum diketahui sebelumnya, c) lebih mengembangkan keterampilannya, d) memiliki pandangan baru atas sesuatu hal, e) lebih menghargai sesuatu dari pada sebelumnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar yang di capai oleh peserta didik tudak hanya berkaitan dengan materi yang telah di kuasai, tetapi juga perubahan dari segi sikap dan ketemapilan.
5. Metode Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Problem based learning adalah model pembelajaran yang mengutamakan seberapa aktif peserta didik dalam selalu berpikir kritis dan selalu terampil ketika dihadapkan pada penyelesaian suatu permasalahan. Proses dari alur bagaimana peserta didik belajar ini tergantung dari seberapa kompleks permasalahan yang dihadapinya. Problem based learning diperkenalkan pertama kali pada tahun 1969, dari sebuah sekolah kedokteran bernama McMaster University, Hamilton, Kanada. Setelahnya banyak sekolah hingga universitas di seluruh dunia yang memakai metode pembelajaran dan masih dipakai sampai saat ini terus dikembangkan. Metode ini mengarahkan peserta didik dalam mendapatkan ilmu baru, menggunakan analisis dari berbagai pengetahuan serta pengalaman belajar yang dimiliki. Setelah itu menghubungkan apa yang dimiliki dengan permasalahan belajar yang diberikan para guru. Pada intinya pembelajaran berbasis masalah ini dikembangkan untuk memberi pengalaman belajar pada peserta didik.
Penerapan pada pembelajaran geografi di kelas X.4 mengacu pada proses pembelajaran yang menggunakan metode diskusi secara kelompok. Metode ini merupakan penyuluhan yang berbentuk penugasan LKPD, dengan tujuan menggunakan media pembelajaran problem based learning (PBL) peserta didik akan lebih kreatif, dan inovatif yang berbasis teknologi dalam menunjang kegiatan pembelajaran di kelas pada materi tenaga eksogen dimana peserta didik diharapkan dapat mengidentifikai dan mengelompokan macam-macam tenaga eksogen. Juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan peka terhadap peristiwa disekitar sehingga berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar. Peningkatan motivasi belajar peserta didik melalui mengembangkan model pembelajaran Project Based Learning dipaparkan pada table di bawah ini:
Tabel 1.1 Indikator PBL terhadap Upaya Peningkatan Hasil Belajar Peserta didik
No
Langkah- langkah PBL
Aspek Tiap Tahap yang Diamati
Peningkatan Hasil Belajar
1
Orientasi peserta didik kepada masalah
Guru menanyangkan sebuah video mengenai konsep geografi Peserta didikmenganalisis dari video yang di tayangkan mengenai materi- materi konsep geografi
Menunjukan semangat peserta didik dalam kegiatan mencari informasi dari internet maupun bukuMengidentifikasi sumber-sumber yang berkaitan dengan materi yang berkaitan dengan projekMemilih informasi yang relevan
2
Mengorganisasikan peserta didik
Gurumembagi peserta didik menjadi 5 kelompok, setiap kelompok terdiri atas 4 peserta didik Peserta didikPeserta didik membuat kelompok secara heterogen dengan bimbingan dari guru
Mendesain perencanaan dengan metode diskusiPembagian kelompok secara heterogen
3
Membimbing penyelidikan individu dan kelompok
Guru meminta peserta didik mencari informasi mengenai konsep geografi dan jawaban-jawaban dari pertanyaan yang diajukan melalui kajian pustaka maupun internet. Peserta didik mencari dan mengolah informasi mengenai konsep geografi dan jawaban dari pertanyaan yang diajukan serta menuliskannya pada buku tugas
Peserta didik mencari informasi dari berbagai sumber sesuai dengan pembagian tugasnyaPeserta didik mulai mengerjakan dengan batas waktu
4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya proyek
Guru meminta kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi dan jawaban pertanyaan yang dibuatnya di depan kelas Peserta didik menyampaikan hasil diskusi dan jawaban pertanyaan yang dibuatnya di depan kelas
a. Masing- masing kelompok unjuk hasil dengan cara mempresentasi hasil LKPD didepan kelas secara bergantian b. Kelompok lain menanggapi dan memberikan umpan balik, baik bertanya c. Menyimpulkan hasil secara bersama
5
Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru melakukan tanya jawab mengenai materi konsep geografi Peserta didik melakukan tanya jawab dengan guru berkenaan dengan materi konsep geografi
a. Masing- masing kelompok unjuk hasil dengan cara mempresentasikan LKPD hasil didepan kelas secara bergantian b. Kelompok lain menanggapi dan memberikan umpan balik, baik bertanya c. Menyimpulkan hasil secara bersama
6
Evaluasi dan rencana tindak lanjut
Guru dan Peserta didik melakukan refleksi terhadap aktifitas dan hasil LKPD yang sudah dilakukan serta menanyakan pengalaman yang dirasakan pada peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.
Merefleksi aktifitas dan pengalaman yang dirasakan peserta didik selama proses pembelajaran langsung
METODE PENELITIAN
Meode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas. Mulyasa (2009:35) menyatakan bahwa penelitian Tindakan kelas adalah penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan kebenaran dan manfaat praktis dengan melakukan Tindakan secara kolaboratif dan partisipasif, yang melibatkan beberapa pihak yaitu guru, kepala sekolah maupun pihak dari luar dalam waktu yang bersamaan. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah instrumen utama dan instrumen pendukung. Instrumen utama adalah siswa dan guru, sedangkan instrumen pendukung adalah tes tulis, lembar observasi, dan lembar refleksi diri. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas X.4 SMAN 2 Mataram yang berjumlah 36 orang. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah 1) respon peserta didik, 2) hasil belajar. Data respon peserta didik dikumpulkan dengan angket respon peserta didik. Data hasil belajar dikumpulkan dengan tes dan penugasan. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yaitu untuk memecahkan masalah atau menjawab permasalahan yang dihadapi dan kualitatif untuk menggambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisahkan dengan kategori analisis data deskriptif kualitatif yaitu analisis data yang tidak dapat diukur melalui perhitungan dengan angka-angka melainkan dengan menggunakan kara-kata atau kalimat.
Berikut adalah tabel KKTP untuk mata pelajaran Geografi.
Tabel 1.2 Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP)
No
Nilai KKTP
Predikat
1
94
Amat Baik
2
87-94
Baik
3
80-87
Cukup
4
80
Kurang
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Kondisi Awal
Sebelum melakukan penelitian dengan menerapkan siklus pembelajaran, peneliti melakukan kegiatan pra siklus (pre test) dengan materi tenaga eksogen. Pra siklus dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kondisi awal peserta didik sebelum dilaksanakan tindakan siklus I. Hasil data yang diperoleh dari kondisi awal hasil belajar peserta didik kelas X.4 SMA Negeri 2 Mataram pada tes pra siklus diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel 1.3 Hasil Tes Pra Siklus
No
Nilai KKTP
Jumlah Peserta didik
Presentase %
Keterangan
1
≥ 94
0
0
Amat Baik
2
87-94
2
5,55%
Baik
3
80-87
11
30,56%
Cukup
4
<80
23
63,89%
Kurang
Jumlah
36
100%
Dari pemaparan data di atas dapat diketahui bahwa tidak ada peserta didik yang mendapatkan nilai amat baik, 2 orang peserta didik atau 5,55% mendapatkan nilai baik, 11 peserta didik atau 30,65% mendapat nilai cukup dan 23 peserta didik atau 63,89% mendapat nilai kurang. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa ketuntasan belajar secara klasikal diperoleh 63,89% dimana persentase ini masih kurang dari indikator nilai standar kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran yaitu 80.
Deskripsi Hasil Siklus I
Dari hasil tes pra siklus yang dilakukan peneliti, ditemukan masih banyak peserta didik yang belum mencapai target kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP), oleh karena itu peneliti mengambil tindakan pada siklus I dengan menggunakan pembelajaran Problem Based Learning (PBL) yang membantu peserta didik untuk meningkatkan hasil belajar pada materi Geografi mengenai tenaga eksogen. Dari siklus I diperoleh hasil pada pemaparan table di bawah ini:
Tabel 1.4 Hasil Tes Siklus I
No
Nilai KKTP
Jumlah Peserta didik
Presentase %
Keterangan
1
≥ 94
2
5,56%
Amat Baik
2
87-94
12
33,33%
Baik
3
80-87
18
50%
Cukup
4
<80
4
11,11%
Kurang
Jumlah
36
100%
Berdasarkan data di atas, diperoleh bahwa hasil belajar peserta didik pada materi Geografi materi tenaga endogen mengalami peningkatan dimana 2 peserta didik atau 5,56% mendapatkan nilai amat baik, 12 peserta didik atau 33,33% mendapatkan nilai baik, 18 peserta didik atau 50% mendapatkan nilai cukup, sedangkan peserta didik yang mendapatkan nilai kurang berjumlah 4 orang atau 11,11%. Oleh karena itu, peneliti berupaya untuk lebih meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi Geografi materi tenaga eksogen menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siklus ke II sesuai dengan usulan observer (rekan sejawat) dan hasil belajar yang diperoleh pada siklus I.
Deskripsi Hasil Siklus II
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II memiliki alur yang sama dengan Siklus I sama dengan skenario pembelajaran siklus I dengan menerapkan kembali pembelajaran Problem Based Learning dengan melibatkan seluruh peserta didik untuk aktif dalam pembelajaran. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Pada siklus II perbaikan-perbaikan dilakukan dengan seoptimal mungkin untuk mendapatkan hasil terbaik sehingga diperoleh hasil seperti terlihat pada table 1.5 di bawah ini.
Tabel 1.5 Hasil Tes dalam Siklus II
No
Nilai KKTP
Jumlah Peserta didik
Presentase %
Keterangan
1
≥ 94
9
25%
Amat Baik
2
87-94
22
61,11%
Baik
3
80-87
5
13,89%
Cukup
4
<80
0
0
Kurang
Jumlah
36
100%
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa hasil belajar peserta didik pada materi Geografi Tenaga Endogen mengalami peningkatan. Dari 36 peserta didik yang menjadi sampel penelitian, terdapat 9 peserta didik atau 25% mendapatkan nilai amat baik, 22 peserta didik atau 61,11% mendapat nilai baik, terdapat 5 peserta didik atau 13,89% dengan nilai cukup, sedangkan tidak ada peserta didik yang mendapatkan nilai kurang. Dari data tersebut menunjukan bahwa pencapaian hasil belajar mengalami kenaikan dengan presentasi mencapai 100% dengan standar kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran 80. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik secara signifikan.
Dari data penelitian di atas, peneliti menyajikan hasil belajar peserta didik melalui komparisasi penilaian yang dimulai dengan pra siklus, siklus I, siklus II pada table 1.6 dan diagram di bawah ini.
Tabel 1.6 Komparisasi Persentase Hasil Belajar Antar Siklus
Nilai KKM
Persentase Hasil Belajar
PRA SIKLUS
SIKLUS I
SIKLUS II
≥ 94
0
5,56%
25%
87-94
5,55%
33,33%
61,11%
80-87
30,56%
50%
13,89%
<80
63,89%
11,11%
0
Gambar 1.1 Diagram Komparisasi Hasil Belajar Peserta Didik
Berdasarkan data pada table 1.6 dan diagram 1.1 komparisasi di atas dapat dielaborasikan bahwa:
Hasil belajar peserta didik materi Geografi tenaga eksogen dengan nilai amat baik pada pra siklus sebanyak 0%, sementara pada siklus I sebanyak 5,56% dan siklus II sebanyak 25%.
Hasil belajar peserta didik materi Geografi tenaga eksogen dengan nilai baik pada pra siklus sebanyak 5,55%, sementara pada siklus I sebanyak 33,33% dan siklus II sebanyak 61,11%.
Hasil belajar peserta didik materi Geografi tenaga eksogen dengan nilai cukup pada pra siklus sebanyak 30,56%, sementara pada siklus I sebanyak 50% dan siklus II sebanyak 13,89%.
Hasil belajar peserta didik materi Geografi tenaga eksogen dengan nilai kurang pada pra siklus sebanyak 63,89%, sementara pada siklus I sebanyak 11,11% dan siklus II sebanyak 0%.
Berdasarkan data di atas dapat di simpulkan bahwa hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan dari kondisi awal pra siklus diperoleh 36,11% menjadi 88,89% pada siklus I dan menjadi 100% pada siklus II dengan standar kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP) 80.
Hasil Non Tes
Hasil non tes mencakup hasil yang diperoleh dari hasil refleksi pembelajaran dan observasi. Hasil tersebut menunjukan bahwa peserta didik merasa senang, termotivasi dan kreatif sehingga lebih semangat dalam proses pembelajaran dan mendapatkan hasil belajar yang lebih baik.
Berdasarkan hasil refleksi pembelajaran menggunakan lembar refleksi yang telah direduksi bahwa peserta didik merasa senang belajar Geografi tenaga eksogen dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Beberapa hal yang diperoleh dari data hasil reduksi bahwa peserta didik mengetahui tenaga eksogen.
Selanjutnya, berdasarkan data yang diperoleh dari lembar refleksi tentang hal yang telah dikuasai pada materi Geografi tenaga eksogen diperoleh data dari hasil reduksi data bahwa peserta didik mampu mempresentasikan hasil LKPD.
Hal terakhir diperoleh data dari hasil reduksi data tentang hal yang tidak menarik dalam pembelajaran peserta didik memberikan respon bahwa mereka menikmati pembelajaran tersebut karena menggunakan metode yang berbeda yang belum pernah mereka dapatkan selama mereka melakukan pembelajaran geografi sehingga pembelajaran tersebut sangat menarik perhatian mereka.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik merasa senang terhadap pembelajaran geografi dilakukan menggunakan cara pendekatan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi Geografi tenaga eksogen sehingga meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Pembahasan
Penelitian yang dilakukan pada kelas X.4 SMA Negeri 2 Mataram diperoleh bahwa hasil belajar peserta didik menggunakan cara pendekatan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi Geografi tenaga eksogen ketuntasan belajar mengalami peningkatan dari kondisi awal pra siklus diperoleh 36,11% menjadi 88,89% pada siklus I dan 100% pada siklus II dengan standar kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran 80. Hal ini diartikan bahwa terjadi sebuah perubahan yang signifikan pada hasil belajar peserta didik yang mencakup pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik pada teori penelitian tentang hasil belajar (Sudjana, 2005:20).
Era transformasi pendidikan pada kurikulum merdeka menekankan pada bagaiamana guru memfasilitasi proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta guru dapat melihat perbedaan kemampuan capaian hasil belajar yang dimiliki peserta didik juga gaya belajar setiap anak agar bisa disesuaikan saat proses belajar mengajar berlangsung. Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik telah di sajikan dalam bentuk video presentasi, video rekaman presentasi visual, rekaman suara dan aktivitas pembelajaran https://drive.google.com/file/d/1NZycJMml2KromWu-SCAROKbG2X9-EdKe/view?usp=drive_link. Hal ini sesuai dengan penuturan Wijayanti, 2011 mengatakan bahwa perubahan paradigma dalam proses pembelajaran yang tadinya berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (learning centered) diharapkan dapat mendorong peserta didik untuk terlibat secara aktif dalam membangun pengetahuan, sikap dan perilaku. Dalam proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, maka mereka memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning) dan pada akhirnya akan meningkatkan mutu dari peserta didik itu sendiri.
Peningkatan hasil belajar yang signifikan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya eksternal dan internal pada peserta didik. Adapun faktor eksternal yang mempengaruhinya diantaranya: kompetensi pedagogic maupun professional guru mata pelajaran, konten materi pembelajaran yang mudah di pahami oleh peserta didik, proses pembelajaran yang sistematis, lingkungan kelas yang aman dan nyaman, serta dukungan komunitas belajar peserta didik yang saling berkerjasama antar datu dengan yang lainnya. Selain itu beberapa faktor internal yang terdapat pada peserta didik antara lain : ketekunan, semangat, kerja sama, dan kreativitas mereka yang mendukung antar satu dengan lainnya (Dalyono, 2009).
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil pembahasan, dikemukakan kesimpulan sebagai jawaban pada rumusan pertanyaan peneliti diantaranya:
Penerapan pembelajaran cara pendekatan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi Geografi tenaga eksogen di kelas X.4 SMA Negeri 2 Mataram tahun pelajaran 2023/2024 berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang telah di rancang dalam rancangan proses pembelajaran yang telah di susun
Peningkatan hasil belajar melalui cara pendekatan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada materi Geografi tenaga eksogen menggunakan model pembelajaran Project Based Learning dapat terlihat dari meningkatnya rasa senang, semangat dan motivasi peserta didik dalam memahami materi geografi materi tenaga eksogen.
Ada beberapa saran dari hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan penelitan ini diantaranya:
Bagi guru mata pelajaran geografi hendaknya perlu mengaplikasikan pembelajaran Problem based learning (PBL) yang di kombinasikan dengan model maupun metode manapun saat proses pembelajaran sebagai upaya untuk memberikan pembelajaran yang berkualitas untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Sekolah perlu untuk terus mensosialisasikan pembelajaran paradigma baru yang berpusat pada peserta didik agar kecakapan guru dalam mengajar bisa relevan dengan perubahan jaman yang terjadi saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Dalyono, M. (2009). Psikologi Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta
Darmawan, P.A dan Sukojo. E. (2013). Revisi Taksonomi Pembelajaran Benyamin. S. Bloom: Satya Widya, Vol. 29, No. 1. Juni 2012: 30-39
Dedi Iskandar (2021). Peningkatan Hasil Belajar Peserta didik Pada Materi Report Text Melalui Pemblejaran Berdiferensiasi di Kelas XI. A SMPN 1 Sape Tahun Pelajaran 2020/2021. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 1(2), 129-138
Hamalik, O. (2001). Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara: Jakarta
Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kencana: Jakarta
Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik pada Mata Pelajaran IPA Pokok Bahasan
Monta Tahun Pelajaran 2020/2021. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI), 1(2), 80-94.
Mulyasa, E. (2009). Praktik Penelitian Tindakan Kelas. PT. Remaja: Bandung
Nurlimah Sugiarti (2022). Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV SD Insan Mulya Kota Baru Driyorejo Gresik. Bapala : Vol. 9. No. 9. 2022, 157-164
Rosdakarya. Purwanto. (2008). Evaluasi Hasil Belajar. Pustaka Pelajar: Bandung
Sinar Baru Algesindo: Bandung
Sudjana, N dan Ibrahim. (2009). Penelitian dan Penilaian Pendidikan.
Sudjana, N. (2005). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya: Bandung
Sunismi, Werdianingsih, D., Wahyuni, S (2022). Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning). CV. Literasi Nusantara Abadi: Malang
Suparwoto. (2004). Kemampuan Dasar Mengajar. FIP Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta
Suwartiningsih, S. (2021). Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi untuk
Tanah dan Keberlangsungan Kehidupan di Kelas IXb Semester Genap SMPN 4
Sumaatmadja, N. dkk. (2007). Konsep Dasar IPS. Jakarta: Depdiknas UT
Tomlinson, Caarol Ann & Moon, T. (2014). Assessment in a differentiated classroom. Proven Programs in Education. Classroom Management and Assessment, 1-5
Trianto. (2011). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep,
Wiwik Wijayanti. (2011). Student Centered; Paradigma Baru Inovasi Pembelajran: Majalah Ilmiah Pembelajaran, Vol.7, No. 1. Mei 2011: 65-69
Upacara Peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2024, berlangsung khidmat di SMAN 2 Mataram. Walaupun pelaksanaan upacara pada hari Ahad (sesuai instruksi Kadis Dikbud NTB melalui surat No. 232/8470.UM/Dikbud), waktu tersebut tidak mengurangi semangat guru dan siswa SMAN 2 Mataram mengikuti upacara secara tertib.
Sesuai dengan arahan Kepala SMAN 2 Mataram, Abdul Kadir Alaydrus, S.P., M.Pd., yang bertindak sebagai pembina upacara adalah Dra. Nurul Asyifa, guru PKN SMAN 2 Mataram, sedangkan sebagai petugas upacara adalah Tim Paskib Smanda.
Mengawali penyampaian amanat pembina upacara, Dra. Nurul Asyifa menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada pertugas upacara yang menjalankan tugas dengan sangat baik. Apresiasi juga diberikan kepada tim paduan suara yang telah mempersiapkan diri dan memberikan penampilan terbaik dalam upacara ini. Selanjutnya, Niril Asyifa membacakan amanat Menteri Sosial RI, Syaifullah Yusuf, dalam Upacara pringatan Hari Pahlawan 10 November 2024. Beberapa poin yang menjadi perhatian menteri antara lain tema Peringatan Hari Pahlawan Tahun 2024 adalah “Teladani Pahlawanmu, Cintai Negerimu”. Tema ini mengandung makna yang dalam. “Teladani Pahlawanmu”, berarti bahwa semua olah pikiran dan perbuatan harus senantiasa diilhami oleh semangat kepahlawanan. Adapun “Cintai Negerimu” mengandung makna bahwa apa pun bentuk pengabdian kita harus memberikan sumbangsih yang berarti bagi kemajuan bangsa Indonesia. Kesadaran akan perjuangan pahlawan harusm embuka kesempatan bagi seluruh bangsa Indonesia untuk berbuat yang terbaik dalam koridor menjadikan NKRI sebagai bangsa yang bermartabat dalam pergaulan global. Diharapkan setiap momen Peringatan Hari Pahlawan akan muncul semangat baru, muncul sosok warga negara Indonesia yang berhasil mengeluarkan inovasi baru untuk mengimplementasikan nilai kepahlawanan sesuai dengan tantangannya saat ini.
Pelaksanaan upacara berlangsung khidmat dan hening. Hal itu menambah kedalaman makna peringatan Hari Pahlawan kali ini. Hal ini cukup membekas pada siswa yang menghadiri upacara. Setelah pelaksanaan upacara, siswa menyampaikan pandangannya. Chelsea Gloria NH, misalnya, mengatakan bahwa hari Minggu mestinya ia gunakan untuk ibadah, namun ia mnyempatkan diri untuk mengikuti upacara karena peringatan Hari Pahlawan penting sebagai media mengenang perjuangan pahlawan. Siswa kelas X-7 ini menyampaikan bahwa siswa yang hadir pada upacara hari ini menunjukkan bahwa mereka mau meluangkan waktu untuk mengenang bersama sesuatu yang sangat penting yakni jasa luar biasa dari pahlawan bangsa. “Jika kita bisa menghargai pahlawan, itu pertanda bahwa kita akan bias menjadi negara yang maju dalam semangat perjuangan para pahlawan,” imbuhnya. Siswa lainnya, Muhammad Rayhan Hibatullah, mengatakan bahwa ia merasa wajib hadir memperingati Hari Pahlawan karena ia bangga menjadi anak Indonesia. Siswa kelas X ini mengaku mengenal para pahlawan melalui media sosial. “Saya mengenal Bung Tomo, Bung Karno, Bung Hatta dan pahlawan lainnya mellau media sosial. Saya menyimak dan membaca perjuangan mereka sehingga saya paham bagimana belia-beliau berjuang,” ujarnya sambal menekankan pentingnya siswa sebagai generasi muda untuk selalu bersemangat dalam persatuan.
Setelah meraih Juara 2 Perpustakaan Terbaik Tingkat Nasional 2024, Perpustakaan SMAN 2 Mataram telah menarik minat beberapa sekolah untuk berkunjung. Setelah beberapa waktu lalu dikunjungi tim perpustakaan SMAN 1 Mataram, kali ini, Sabtu 9 November 2024, Tim Perpustakaan SMAN 5 Mataram yang datang. Rombongan dipimpin langsung Kepala SMAN 5 Mataram, Siti Nurhani, S.Pd. bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Koordinator TIK, Kepala Perpustakaan, dan beberapa anggota rombongan lainnya.
Dalam acara penyambutan yang sederhana di ruang audio visual Perpustakaan SMAN 2 Mataram, Siti Nurhani menyampaikan tujuan utama kunjungan adalah untuk berdiskusi dengan pengelola perpustakaan dan mengambil pengalaman-pengalaman tentang pengelolaan perpustakaan. Beliau berharap pengelola perpustakaan Smanda dapat membagi pengalaman tentang berbagai hal misalnya tentang penataan ruang, pelayanan secara digital, atau hal lainnya yang dapat diterapan di SMAN 5 Mataram. Dalam sambutan balasan, Kepala SMAN 2 Mataram, Abdul Kadir Alaydrus, S.Pd., M.Pd. menyampaikan terima kasih dan penghargaan atas kunjungan yang akan memperkuat sinergi dan kolaborasi. Ditekankan, SMAN 2 Mataram dengan senang hati akan berbagi informasi dan pengalaman karena pada prinsipnya semua sekolah harus saling mendukung program untuk kemajuan bersama. Beliau juga meyakini bahwa perpustakaan SMAN 5 Mataram akan berkembang dengan cepat di bawah tim yang solid di bawah pimpinan yang berkomitmen membangun budaya literasi melalui perpustakaan.
Pada acara penyambutan tersebut, Kepala Perpustakaan SMAN 2 Mataram, Herliyana Hasyim, M.A. TESOL memaparkan upaya dan kerja keras tim perpustakaan sehingga dapat mencapai prestasi yang baik. Ia menjelaskan bahwa dalam mengelola perpustakaan diperlukan komitmen yang kuat dari tim perpustakaan dan dukungan penuh dari kepala sekolah sebagai pimpinan. Ia mengapresiasi kepala SMAN 2 Matarama yang selama ini menurutnya telah mendukung penuh program-program perpustakaan.
Setelah memberikan pelayanan pada tim perpustakaan SMAN 5 Mataram, Herliyana Hasyim mengemukakan bahwa dalam kunjungan studi tiru ini, tim pengelola perpustakaan SMAN 5 Mataram tidak hanya melihat dan mempelajari sistem tata letak dalam area perpustakaan, tetapi juga sistem layanan yang sesuai sengan standar nasional pengelolaan perpustakaan sekolah, termasuk pengelolaan secara digital.
Jenis koleksi bahan pustaka di Perpustakaan SMAN 2 Mataram yang berjumlah lebih dari 2000 eksemplar, juga menjadi perhatian tim pustakawan SMAN 5 Mataram terkait dengan tatacara pengadaan serta pengolahannya. Beberapa kerjasama yang sudah terjalin baik antara Perpustakaan SMAN 2 Mataram dengan beberapa instansi luar, menjadi salah satu hal penting yang akan segera dilakukan oleh tim pustawakan SMAN 5 Mataram. Karena melalui kegiatan kerjasama tersebut, pengelolaan perpustakaan sekolah akan menjadi lebih baik secara kualitas layanan maupun penyediaan sarana pendukung dan pengelolaan bahan pustaka.
Jumat, 8 November 2024, SMAN 2 di Mataram melaksanakan Simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Pelaksanaan simulasi di bawah arahan Instruktur Nasional SPAB, Dany Kurniawan dari lembaga kemanusiaan Human Initiative, Jakarta. SPAB sendiri merupakan upaya pencegahan dan penanggulangan dampak bencana pada satuan pendidikan. Penyelenggara program SPAB diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 33 tahun 2019.
Sebelum pelaksanaan simulasi telah dilakukan beberapa persiapan. Ketua Tim Tanggap Bencana SMAN 2 Mataram, L. Iskandar, S.Pd. menjelaskan bahwa di SMAN 2 Mataram telah dibentuk Tim Tanggap Bencana yang melibatkan guru dan siswa. Tim inilah yang membantu menyiapkan simulasi serta menyiapkan berbagai bentuk respon jika bencana benar-benar terjadi. Saat persiapan simulasi, siswa juga diberikan informasi awal tentang pembagian tangga turun untuk siswa yang berada di kelas-kelas lantai dua serta titik kumpul yang harus menjadi arah berkumpul siswa saat simulasi maupun jika bencana benar-benar terjadi. Lebih lanjut, Wakasek Kesiswaan SMAN 2 Mataram ini menjelaskan tentang pelibatan organsasi kesiswaaan seperti OSIS, PMR, PKS, Pramuka, dan SJT dalam kegiatan simulasi.
Instruktur Nasional SPAB, Dany Kurniawan, pada pembekalan awal menyampaikan tentang mitigasi bencana. Mitigasi bencana sangat penting untuk mengantisipasi banyaknya korban. Dalam konteks respon terhadap kejadian bencana di sekolah, Dany Kurniawan memfokuskan simulasi kali ini pada bencana gempa. Hal umum yang harus menjadi perhatian jika terjadi gempa saat berada di sekolah adalah: (1) mengutamakan keselamatan diri sendiri dengan berlindung di bawah meja, (2) menjauh dari jendela kaca, (3) keluar kelas menuju titik kumpul yang sudah ditentukan, (4) warga sekolah yang berada di lantai atas harus tuun dari tangga-tangga yang sudah ditentukan agar tidak terjadi penumpukan di satu tangga tertentu. Dany juga menyiapkan guru dan pegawai sebagai sebuah tim simulasi tanggap bencana gempa yang meliputi Ketua Tim, Tim Keamanan, Tim Evakuasi, Tim Kesehatan, dan Tim Damkar.
Pelaksanaan simulasi ditandai dengan bunyi sirene pertama. Sirene ini sebagai informasi terjadinya gempa. Semua warga sekolah yang berada di ruangan segera menyelamatkan diri dengan berlindung di bawah meja dan menjauhi jendela kaca. Setelah situasi memungkinkan, ditandai dengan sirene kedua, mereka keluar dari ruangan dengan posisi tangan melindungi kepala menuju titik kumpul. Tim Keamanan segera menutup gerbang dan mematikan listrik, sementara Tim Evakuasi melakukan penyisiran untuk mencari kemungkinan adanya korban. Jika ada, korban dievakuasi ke Tim Kesehatan untuk mendapat perawatan. Tim Damkar juga menyisir lokasi untuk melihat ada atau tidaknya kebakaran.
Dengan posisi masih warga masih di titik kumpul, masing-masing tim melaporkan perkembangan kejadian sesuai dengan tugas-masing-masing kepada Ketua Tim. Setelah menerima laporan, Ketua Tim segera menyampaikan informasi terkini kepada penanggung jawab (Kepala Sekolah). Penaggung jawab kemudian menuju titik kumpul untuk menenangkan warga sekolah, memotivasi, dan menyampaikan langkah lanjutan yang harus menjadi perhatian bersama. Penyampaian kepala sekolah sebagai penaggung jawab ini mengakhiri simulasi.
Di akhir simulasi, Dany Kurniawan dan tim LAZ DASI NTB memberikan apresiasi atas kerjasama dan kekompakan warga SMAN 2 Mataram dalam melaksanakan simulasi. Sebaliknya, keluarga besar SMAN 2 Mataram menyampaikan terima kasih atas simulasi yang diberikan karena simulasi ini bermanfaat dalam menumbuhkan kesadaran tanggap bencana.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap penderitaaan korban bencana di berbagai tempat, sebelum kegiatan simulasi dilakukan penggalangan donasi dari warga SMAN 2 Mataram. Donasi Pengumpulan donasi sebagai bentuk kontribusi terhadap korban bencana di berbagai tempat.
Menindaklanjuti kebijakan Pusat Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI, SMA Negeri 2 Mataram melaksanakan Asesmen Bakat Minat (ABM) 2024. Kegiatan ini berlangsung dalam dua hari yakni 29 dan 30 Oktober 2024. Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 2 Mataram, Gunawan, M.Pd. menjelaskan bahwa ABM bertujuan untuk memprediksi kemampuan siswa pada bidang-bidang khusus dan minat siswa berdasarkan ketertarikannya pada suatu jenis bidang, kegiatan, atau pekerjaan tertentu. “ABM diharapkan dapat menempatkan siswa pada bidang keahlian yang tepat sehingga menimbulkan motivasi dan kenyamanan dalam proses pembelajaran. Siswa menjawab soal berdasarkan daya nalar karena ABM disusun tidak berdasarkan silabus mata pelajaran tertentu,” ujarnya menjelaskan.
Berdasarkan jadwal yang sudah ditentukan dari pusat, seluruh siswa kelas XII SMAN 2 Mataram yang berjumlah 412 orang seharusnya dapat mengikuti ABM dalam dua hari, yakni tanggal 29-30 Oktober 2024. Asesmen terbagi ke dalam dua sesi per hari dan masing-masing sesi menggunakan tiga ruangan yakni ruang Lab. TIK, Lab. Bahasa, dan ruang pertemuan. Namun dalam pelaksanaannya penggunaan ruang pertemuan sebagai tempat pelaksanaan asesemen ternyata tidak dapat dilakukan karena ABM tidak dapat menggunakan perangkat HP Android. “Awalnya kita mendapat informasi bahwa ABM dapat dilaksanakan menggunakan HP Android, namun ternyata ada kendala. ABM hanya dapat dilakukan dengan PC atau laptop. Masalah lainnya adalah kendala teknis dari sistem pusat sehingga semua peserta pada sesi 1 hari pertama tidak bisa mengikuti kegiatan ABM,” ujarnya. Akibat kendala tersebut, 246 siswa mengikuti ABM susulan yang dilaksanakan pada tanggal hari Jumat – Sabtu, 1 – 2 November 2024. Sekretrais Panitia, Gusti Afifah, S.Pd. menjelaskan bahwa untuk mengatasi beberapa kendala teknis, khususnya terkait dengan tidak bisa digunakannya perangkat ponsel android, peserta yang memiliki laptop diminta untuk membawa laptop yang bisa digunakan untuk melaksanakan asesmen. “Alhamdulillah, cara ini cukup membantu mengatasi masalah keterbatasan ruang dan keterbatasan komputer yang ada di laboratorium TIK dan Bahasa,” imbuh guru Fisika ini yang juga menambahkan bahwa ada beberapa siswa yang tidak dapat mengikuti ABM karena sakit yang memerlukan beberapa hari perawatan.
Siswa yang telah mengikuti ABM menyampaikan komentarnya tentang asesmen yang diikuti. Fadhil Azzam, siswa kelas XII Sains 1 menyatakan bahwa soal ABM tidak sulit untuk diselesaikan karena jenis dan model soal ABM sudah cukup familiar karena pernah dikenal, misalnya saat ujicoba soal kedinasan. Calistania Salwa Primadi, juga siswa kelas XII Sains 1, mengatakan bahwa menyelesaian soal-soal dalam ABM melatih siswa untuk fokus dan melatih siswa menyelesaikan masalah secara cepat, tepat, dan dalam waktu yang sudah ditentukan. Hal itu membuat siswa lebih terlatih dalam bernalar.
Siswa lainnya, Nabil Mulya Wardana, memberikan saran dan harapan yakni agar asesmen berikutnya lebih baik menggunakan android agar lebih memudahkan semua siswa untuk mengakses. Ia juga menekankan bahwa asesmen bakat dan minat ini memang penting karena dapat membantu siswa mengenal bakat dan minatnya secara lebih baik.